Jumat, 25 Oktober 2019
menulis mencari receh berdigit digit
Jika bisa bersatu kenapa mesti berseteru
Minggu, 22 September 2019
Kang hemod dikamar melati
Pagi itu masih terasa dingin padahal sinar mentari sudah hangat menerobos sela sela gordin kamar melati ketika terdengar sapaan dari seseorang
Pagi kang Hemod sapa suster fatimah padaku dengan senyum manisnya yang seketika berubah jadi sedikit sendu ketika lirik matanya menatap ke arah smartphone yang berbunyi pelan sambil terucap lirih "innalillahiwainnalillahirojiun".
kenapa fat, tanya suster Renny, pak Ardi telah "pergi", ya Tuhan kata suster reny sambil melakukan doa rosario padahal beliau baru saja kemarin kesini untuk cuci darah.
Ternyata beliau sudah tak kuat,padahal kalau dilihat dari fisiknya,beliau semakin membaik,bahkan saat kesini untuk yang terakhir kali wajahnya ceria sekali tak nampak gurat kesakitan juga keletihan seperti saat pertama kali datang ke kamar ini.
Ya kabar kematian demi kematian hampir setiap kali datang menghampiri ke kamar melati,saking seringnya jadi tak aneh lagi,meski tetap saja suasana sedih kerap mewarnai wajah para suster dan perawat yang tak pernah bosan dan selalu sigap melayani para pasien yang datang silih berganti melakukan proses pembersihan darah atau hemodialisasi.
Entah sudah berapa ratus kali aku menjadi saksi mereka mereka yang datang dan pergi ada yang kembali lagi,atau malah tak kuat dan "pergi" dikamar ini.
Aku juga menjadi saksi betapa hebat dan kuatnya mental para perawat yang bekerja disini,terkadang meski mereka larut dalam kesedihan,mereka tetap bekerja tak peduli siang tak peduli malam bahkan tak ada tanggal merah semua tanggal hitam buat mereka,dan mereka tetap mampu saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Pernah suatu hari kulihat wajah seorang perawat yang bernama Anto terlihat sangat sedih,dan sering kali dia memyembunyikan air mata dari balik kaca matanya,tadinya aku tak tahu kenapa perawat Anto bisa sesedih ini,padahal biasanya dia adalah perawat yang selalu ceria.
Dan kesedihan itu pun terbaca oleh suster Ani,salah satu suster senior di ruang perawatan melati.
Setelah proses awal hemodoalisasi pada pasien telah dilakukan,suster ani menepuk pundak anto,kenapa to masih terbawa perasaan,sabar ya to,semua memang sudah waktunya,umur memang tiada yang tahu
Iya bu Ani,tapi Anira masih terlalu muda bu, masa depannya masih panjang,tapi... dia malah sudah "pergi"
masih aja terngiang ditelinga perawat Anto setiap kali dia menjerit lirih saat jarum suntik menusuk nadinya,meski akhirnya jadi terbiasa,tapi tetep aja dia selalu nanya,om Anto,apa Anira bisa sembuh,Anira bosen disuntik terus,Anira pingin sembuh,
iya Anira,sabar ya,anira pasti sembuh kalau rajin berobat,dan juga jangan lupa untuk selalu berdoa,biar cepet ilang penyakitnya
Biasanya anira mengangguk pelan sambil tangan posisi berdoa Ya Allah sembuhin anira ya,biar cepet sekolah,Amin jawab papa mama,dan semua perawat juga suster yang ada di ruangan melati.
Terkadang di sudut ruang terlihat papa mama anira terlihat terisak lirih saat anira mulai tertidur,dan biasanya perawat Anto akan mencoba menenangkan mereka meski dia tahu kecil kemungkinan anira bisa sembuh sediakala.
Aku juga menjadi saksi betapa terkadang cinta sejati itu akan benar benar abadi,meski diterjang kerasnya rintangan dia akan tetap bertahan
Seperti kisah pak arifin dan ibu arifin yang ,begitu setia menemani saat saat proses cuci darah suaminya,meski terlihat lelah tangan selalu tak lepas dari tangan suaminya,mengelus,memijit bagian bagian yang terasa sakit ditubuh suaminya.
Meski kerap kali dilanda kesedihan dia coba terus bertahan memberi semangat agar sang suami mau untuk melakukan cuci darah
Hingga akhirnya setelah hampir lima tahun,sang istri meninggal dan berapa hari kemudian pak Aripin "pergi" menyusul istrinya setelah dua hari dia cuci darah
Tapi terlihat waktu itu sudah tak ada lagi semangat yang menyelimutinya mungkin karena cinta sejatinya telah "pergi".
Oh ya semua teman suster dan perawat memanggilku kang Hemod dan aku sangat bahagia dengan pangilan itu apalagi saat para suster dan perawat sering menepuk nepuk tubuhku sambil berkata ayo kang hemod laksanakan tugasmu,jangan lelah ya,biar mereka para pasien bisa sejenak merasa sehat,dan tentunya atas seijin sang pencipta mereka dapat tambahan waktu hidup di dunia.
Seperti cerita kang Baron sang penguasa terminal tubuhnya penuh tato, wajah garang,suaranya berat berwibawa
Tapi akhirnya harus terbaring lemah karena ginjalnya sudah rusak permanen,mungkin karena akibat kehidupannya yang kurang menjaga kesehatan.
Maklum dunia terminal cenderung penuh hura hura siang malam kurang tidur,
minum ini minum itu,isep ini isep itu tak terkendali,yang penting happy, memaksa kinerja ginjalnya sampai batas maksimal,hingga akhirnya kolaps jatuh pingsan di tengah hari yang panas,
Tadinya nggak ada yang mau nolong,karena di fikir cuma lagi pusing aja sisa mabuk semalam,tapi akhirnya ada salah satu pedagang di terminal yang biasa dia palakin
Memberanikan diri untuk menghampiri,karena di fikir ini tak seperti biasa,biasanya kalau jatuh habis sisa mabuk,mulutnya masih ngoceh,tapi kali ini diam,bahkan terlihat pucat sekali wajahnya yang lusuh jarang tersentuh air itu,lalu diangkatlah ramai ramai dibawa kerumah sakit,
Dan akhirnya terdampar dikamar melati,karena hasil akhir periksa, ginjalnya sudah tak berfungsi normal jadi harus dilakukan proses cuci darah,dan tentunya harus bersahabat denganku.
Dan disinilah terkadang terlihat bahwa teman sejati adalah teman dikala kita tak berdaya,karena teman yang banyak disaat kita jaya terkadang hanya fatamorgana.
Seperti terlihat, hanya ada para pedagang terminal yang mau mengantar,yang juga berinisiatip mendaftarkan baron ke dinas kesehatan agar dapat pelayanan kesehatan gratis dari pemerintah.
Dan akhir cerita kang
Baron dia harus "pergi",setelah tiga puluh hari pulang dari rumah sakit tapi setidaknya ada cerita mengharukan karena dia sempat menjadi wali nikah anak perempuan satu satunya,yang sama sekali belum pernah dia tahu dan lihat,dan dirawat dengan baik oleh mantan istrinya dikampung.
karena dulu habis menikah, dia malah kabur ke kota,meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda,demi mengejar gemerlap kota.
Begitulah aku menjadi saksi dari banyak kejadian menyedihkan ini,sebenernya aku nggak tega dan ingin pergi saja tapi apa daya sudah tugasku disini membantu para suster,perawat dan yang paling penting para pasien cuci darah,jika tidak ada aku mereka takkan bisa tercuci darahnya.
Karena aku adalah Hemod si penunggu kamar melati,mesin cuci darah yang tak pernah lelah membantu para pasien agar bisa sembuh,meski hanya sementara,karena esok jika darahnya harus dibersihkan mereka akan datang lagi,datang lagi sampai mereka "pergi" tak pernah kembali.
Kamis, 04 Juli 2019
Ber 217 an
Aku tersenyum kecil saat kulihat tulisan kecil di dasboard truk milik pardi,sahabatku.
Tulisan itu dulu sering kita tuliskan di buku,di sepeda,di motor,juga di setiap tembok yang kita jumpai,entah tembok rumah,tembok jalan,kadang juga tembok pemakaman. ya tulisan ber 217 an,bahkan pernah kita juga bikin plat nomer palsu untuk motor cb 100 dengan tulisan itu.
Supardi adalah sahabat masa kecil dan jadi saudara sampai selamanya.
Dulu almarhumah ibunya teman ibuku,mereka berdua sama sama berdagang di sebuah pasar tradisional
Ibuku berdagang sayuran,sedangkan ibu pardi berdagang pindang macam macam ikan,dari ikan nila,mujaer,tongkol,bandeng,kadang kalau lagi musim ikan tengiri,suka ada tengiri panggang.
Yang baunya wangi sekali,hampir setiap hari ibu membeli,dimasak sambel pecak tengiri, jodohnya dengan sayur asem,duh nikmat sampe netes air liur membayangkannya.
Persahabatan kami di mulai sejak kami kecil mungkin ketika masih balita,karena seingatku Pardi sudah ada dipasar, sejak aku suka dibawa ibu kepasar,dia juga dibawa oleh ibunya karena dia anak semata wayang,kalau aku karena anak bungsu jadi kemana mana ikut ibu.
Tapi peristiwa ada peristiwa yang sangat penting yang membuat Pardi akhirnya tinggal serumah denganku.
Waktu itu Pardi sudah tiga hari tidak masuk sekolah dasar!!.
Dia kelas tiga sekelas denganku,begitu juga dia tidak ada main kepasar,kata ibuku ibu Pardi sakit keras dan harus di rawat di rumah sakit.!!
Ibuku pun mengajakku untuk menengok ibu pardi,aku juga sudah kangen pingin ketemu pardi.
Sesampai disana,kulihat Pardi sedang menyuapi ibunya dengan sendok yang berisi bubur jatah rumah sakit.
Dia tersenyum.. melihat kami datang,aku mengajak pardi bermain, setelah Pardi selesai menyuapi ibunya
Kutanya sakit apa ibumu par,?,ehm... kata dokter sakit paru paru ibu kambuh lagi..!!
Ya..!! semenjak ayah pardi meninggal, dua tahun lalu,ibunya memang sering sakit sakitan,terutama sakit paru parunya,tapi sakit kali ini sudah parah rupanya,sehingga harus di rawat di rumah sakit.
Setelah beberapa lama, akhirnya ibu mengajakku pulang,tak lupa ibu memberi sejumlah uang sebagai bekal ke pardi.
juga berpesan agar segera mengabari jika ada kabar berita penting tentang ibunya.
Dua hari kemudian saat aku pulang sekolah kulihat pardi ada di depan rumah.
n
Nafasnya tersengal,ada bekas air mata dipipi,ada apa di..?,dia tidak menjawab malah merangkulku sambil menangis...
Disela isak tangisnya dia tersendat berbicara ii..bu..!! meninggal suf..!!,i..bu meninggal..!!,tangisnya makin keras.
Hah..!! meninggal di..,yang benar..!! tanya Ayahku yang baru pulang mengajar,Ayahku seorang guru SD,beliau juga guru kelas lima di sekolahku.
Ayahku segera masuk kedalam rumah berganti pakaian lalu memberi kabar melalui telpon,ke ketua rw dan rt tempat rusdi tinggal.
Rumah kontrakan rusdi memang beda rw dengan rumah,kami pun segera berangkat ke rumah sakit,mengurusi segala urusan
Dari surat kematian sampe ambulan untuk membawa jenazah ibu rusdi kepemakaman.
Setelah dimandikan...,disholatkan...,kemudian dibawa untuk dimakamkan.
Hampir semua orang menitikkan air mata,ketika rusdi mengadzani,kemudian ikut menutup makam dengan tanah,ah... kuat sekali kau teman.
Selesai pemakaman ayahku merangkul Pardi sambil berkata,mulai sekarang kau ikut kami di,tinggalah bersama Yusuf.
Tapi pak.., sela pardi...,sudah tak usah banyak pikiran..!!,ayo kemasi barang barang,lalu pindah kerumah perintah bapak..!!,
Iya pak jawab pardi tanpa bisa membantah lagi.
Sejak hari itu Pardi tinggal bersama kami,tidur sekamar,sekolah bareng,main bareng dan apapun, kemanapun selalu bareng,aku jadi tidak kesepian lagi,maklum kedua kakakku terpaut usia cukup jauh,saat aku kelas tiga sd mereka sudah kelas 2 SMP dan 2 SMA.
Pardi juga anak yang baik dan rajin,dia sangat mandiri,beda dengan aku,maklum anak bungsu jadi sedikit manja
Kalau bangun selalu pagi,setelah sholat subuh langsung sapu halaman, ngepel beranda rumah tanpa disuruh, bahkan cuci baju juga dia lakukan sendiri, dan itu secara tidak langsung mengubah hidupku untuk lebih disiplin.
Dia juga menjadi pelindungku jika ada teman yang jahil kepadaku.
Begitulah kemana mana selalu berdua sampai SMA,dan saat lulus SMA,
aku melanjutkan untuk kuliah,supardi tidak mau melanjutkan kuliah,
Dia lebih memilih untuk bekerja menjadi kernek truk pasir antar kota,kemudian setelah bisa membawa mobil sendiri,oleh Ayahku dibantu biaya untuk bikin SIM,sehingga,dia bisa melamar jadi sopir pembawa ikan hasil laut kedaerah.
Dan nasibnya memang mujur,setelah beberapa waktu,dia bisa mengajukan pinjaman ke Bank untuk beli truk sendiri,sampai akhirnya punya beberapa truk untuk disewakan.
Alhamdulillah,karena kejujuran serta kerja kerasnya hidup Supardi semakin baik,dan yang paling mengembirakan dia selalu ingat dengan ayah ibuku, hampir setiap bulan, dia,atau istrinya berkunjung kerumah orang tuaku,mengalahkan aku dan kakakku yang jarang pulang apalagi setelah bekerja,menikah dan punya keluarga.
Supardi juga sering berkunjung kerumahku,jika dia kebetulan lewat kekotaku tempatku kini tinggal,seperti hari ini,dengan truknya dia kerumah,membawa beberapa hasil olahan laut,seperti ikan asin,terasi juga krupuk udang tak lupa panggang ikan tenggiri kesukaanku.
Waktu kutanyakan kenapa masih menyimpan tulisan ber 217 an,dia tersenyum sambil menjawab,ya karena kamu..!!
Aku bisa mencapai tujuan hidupku,jika saja aku tidak bertemu kamu...,keluargamu..., entah jadi apa aku sekarang,sampai kapanpun jasamu dan keluarga besar, tidak akan bisa kubalas bahkan jika harus menukar nyawa sekalipun.
Terlalu besar suf,..!!,terlalu besar...!!,katanya dengan mata berkaca sambil merangkul pundakku.
Aku hanya tersenyum dan menghela nafas,sambil memeluk anakku yang baru bangun tidur.
Mungkin dulu Ayahku tak pernah berfikir sampai sejauh ini,dia hanya ingin menolong seorang anak yang seumuran dengan anaknya,yang sudah tidak punya siapa siapa.
Dan ternyata, jalan Tuhan memang indah,kebaikan akan selalu mencari kebaikan,selama dia dilakukan dengan tulus dan ikhlas entah bagaimanapun caranya dia akan menemukan jalannya.
Selasa, 02 Juli 2019
Kepulangan Arini
"Kepulangan Arini"
Dia adalah Bintang dari segala Bintang,cahayanya memendar keseluruh alam raya,senyumnya mengoda kesetiap sel sel keimanan setiap pria normal manapun diseantero kota.
Namanya Arini,bintangnya bintang diSMAku dan kebetulan dia juga teman sd,teman smp juga teman bermain dirumah karena dia juga tetangga sebelah rumah.
Sejak SD sudah banyak yang naksir,berlanjut SMP hingga SMA,tapi begitulah hanya sekedar pacaran tidak ada yang serius,mungkin karena masih sekolah.
Tapi anehnya aku tidak pernah ada ketertarikan sedikitpun dengan Arini,mungkin karena dia tetangga,jadi terasa bosan setiap hari bertemu dengannya.
Setelah lulus SMA,aku melanjutkan kuliah ke ibukota dan Arini kerja diluar pulau,lama tak terdengar kabar, tiba tiba ada telpon dari Mamah memberi tahu,jika ada waktu tolong tengoklah sebentar Arini,dia sekarang dirawat di sebuah rumah sakit di pinggiran ibukota,kasihan kemarin ibunya nangis nangis ke rumah, pingin nengok tapi belum ada uang.
Setelah mendapatkan alamatnya aku segera ke rumah sakit tersebut,dengan ribuan pertanyaan berkecamuk dikepala,ada apa sebenarnya..??, sakit apa..?,kenapa ada dirumah sakit ..??
Kulihat seorang perempuan duduk di kursi roda tangannya sedikit bergetar nampak sedang disuapi oleh suster penjaga,segera kuhampiri .. Ya Tuhan..!! Arini..!!teriakku lirih... kenapa bisa begini...?,dia sedikit menoleh ketika kupanggil,tapi tidak mengenali,hanya bibirnya berulang kali bergetar sambil berucap lirih ...dinda..dinda..mana anakku dinda..lalu nampak berlinang airmatanya.
Setelah selesai menyuapi,suster kemudian membaringkannya di atas Ranjang pasien,kemudian aku bertanya bagaimana ceritanya Arini bisa sampai di rumah sakit,menurut suster Arini diantarkan oleh pihak kepolisian satu minggu yang lalu
Menurut pihak kepolisian dia ditemukan setengah Telanjang,terdampar di sebuah pulau di pinggiran ibukota, tak jauh disamping tubuhnya tergeletak mayat anak perempuan kecil kisaran umur 2 tahun dengan darah yang telah mengering disela bibir mungilnya,nampak berserakan pula potongan kayu serta pecahan Perahu bergambar Alien yang sudah sedikit kabur warnanya.
Tak lama datang petugas dari kepolisian ,mereka bertanya apakah aku adalah keluarga korban,karena sebelumnya pihak dari kepolisian sudah mencoba untuk menghubungi keluarga Arini melalui alamat serta no telepon yang yang tersimpan di tas kecil yang menempel ditubuhnya.
Kemudian aku ceritakan yang aku tahu mengenai Arini,serta coba kuhubungi lagi mamah agar memberi tahu keluarganya bahwa aku sudah berhasil bertemu dengan Arini.
Aku mencoba mencari tahu ada apa sebenarnya dengan Arini,berdasar cerita salah satu teman satu perahu yang berhasil diselamatkan oleh petugas,Arini bersama anaknya adalah salah satu dari tenaga kerja ilegal yang mencoba pulang ke tanah air dengan Perahu nelayan,tapi sayang ditengah perjalanan perahunya pecah, terkena ombak yang sangat dahsyat, menghantam perahu yang ditumpangi oleh sekitar 50 orang tenaga kerja ilegal.
Arini dan anaknya terpisah ditengah lautan,mereka hilang tertelan ombak yang mengganas.sementara beberapa teman seperahunya berhasil diselamatkan,sebagian lagi hilang entah kemana,kemudian Arini beserta anaknya ditemukan terdampar di sebuah pulau dipinggiran ibukota.
Perjalanan hidup memang tidak bisa ditebak,setelah lulus SMA Arini pergi merantau keluar negeri,tapi dengan cara yang kurang benar,dia ditipu oleh calo tenaga kerja,disana bekerja diperkebunan kelapa sawit,tak berapa lama bertemu seorang pria,lalu menikah secara agama,dan karena kerinduannya akan orang tua,dia memaksa untuk pulang padahal sudah dilarang oleh suaminya,selain karena ilegal resikonya juga berat,tapi malang tak dapat ditolak mujur, tak dapat diraih,kerinduan yang menggebu itu berakhir petaka dan air mata.
Dan masih saja terngiang ditelinga ketika aku pulang, Arini terus saja memangil manggil nama anaknya ..dinda..dinda... duh sedihnya terasa sampai kedalam jiwa,aku tahu kehilangan orang yang sangat kita cintai itu sangat berat apalagi ini anak semata wayang baru berumur dua tahun masih lucu lucunya,terbayang ketika dia berusaha mendekap anaknya diantara badai yang menerjang.. ah.. aku kok jadi ikut menangis..,yang tabah ya Arini,semoga kamu kuat...harus kuat...!!