Senin, 23 Agustus 2021

Cinta itu seperti angin,kowe bisa merasakannyah,namun tak bisa melihatnya

Hujan baru saja selesai mengunjungi bumi,namun gerimis, seperti enggan mengakhiri kepergiannya,rintiknya malah bercengkerama bersama daun pohon kamboja, yang berdesir menahan dingin angin,yang menari lembut,membuat sore, di tempat pemakaman umum menjadi kian syahdu. 

Tanah yang lembek,bercampur lumpur,membuat sepasang kaki pria separuh baya berbaju koko dan celana kampret itu, ikut terbenam bersama sandal jepit yang berbalut lumpur,yang juga menghiasi baju dan celananya.
Kerut matanya yang basah oleh tetesan gerimis, menyamarkan beribu air mata;
Semua pelayat telah pulang,menyisakan Dia sendiri terpekur dalam doa;
Sementara angannya berkelana;tentang kenangan bersama seseorang yang kini terpisah berbatas gundukan tanah didepannya;
dipandanginya sekali lagi papan nisan yang masih baru dengan coretan spidol bertuliskan:Yuli ,yang basah bertabur aneka bunga juga doa doa.


#Berbeda, Bersahabat.
Namanya Yuli,perempuan, muda,masih SMA. Adalah sahabat Andini yang bertahun kemudian menjadi ibu dari satu satunya anak yang dikandungnya,karena sesaat setelah dia melahirkan,Tuhan lebih menyayanginya,Andini berpulang sehari setelah sang buah hati menghirup udara bumi.
Semenjak memasuki Sekolah Menengah Pertama Yuli telah bersahabat dengan Andini;Pagi,berangkat sekolah kalau tidak Yuli,pastilah Andini yang menhampiri ;usai sekolah pastilah saling tunggu untuk pulang bersama; Dimana ada Yuli disitu pasti ada Andini;saat libur sekolah Yuli menginap dirumah Andini begitupun sebaliknya.


"Din,selepas sekolah aku ingin kita keliling indonesia,kita mulai dari sabang di pulau sumatra,kita daki semua gunungnya,lalu kalimantan,sulawesi sampai merauke di papua";ujar Yuli dengan suara sedikit terengah,suatu hari didepan rumah Andini,selepas melepas lelah;waktu mereka baru saja tiba dari pendakian ke gunung Bromo di Jawa Timur.

"Hayu,siapa takut,setelah indonesia bosan kita kelilingi,kita keliling dunia ya";jawab Andini dengan suara penuh semangat.
Bertahun melewati masa sekolah,mereka selalu berpetualang berdua;tak bosan bosan berdua, mereka kelilingi hampir semua Gunung yang ada di pulau Jawa.

Bagi  Yuli pendakian dan petualangan itu adalah obat pelarian; dari penatnya hidup;yang meski dia tidak kekurangan harta,tapi tetap saja hidupnya terasa sepi dan membosankan.

Ibunya meninggal sewaktu Dia masih Sekolah Dasar,sementara Ayahnya yang pengusaha dalam bidang kontraktor perumahan dan jalan besar,jarang ada dirumah,apalagi setelah terdengar kabar Dia menikah lagi;tapi setidaknya dengan semua kemalangan itu; membuat Yuli bebas  pergi kemanapun Dia mau,tak ada yang peduli apalagi melarang.
Akan tetapi meski sama sama anak tunggal kehidupan Andini berbeda dengan Yuli,Andini berasal dari keluarga sederhana,tidak kaya tapi juga tidak kekurangan.
Ayahnya sebelum meninggal adalah seorang petani,dan kini semua lahan peninggalan Ayahnya diteruskan ibunya untuk digarap.
Sebagai satu satunya penerus keturunan keluarganya,Ibunya berharap banyak darinya,agar bisa menjadi penerus keturunan keluarganya.
Ya Ibu Andini ingin agar dia cepat menikah seusai sekolah,karena beliau khawatir jika dia meninggal, sebelum Andini menikah. 

Akhir juni selepas ujian sekolah:
"Yul...aku akan menikah setelah kelulusan, Ibu sudah menerima lamaran dari keluarga Pak Sirnarudin,pemilik penggilingan padi dikampung sebelah; tempat kami biasa menggiling padi disana".ucap Andini pelan menahan sedih,bersama daun daun yang berguguran berserak tertiup angin sore itu;menutupi halaman sekolah,halaman yang  setiap hari mereka lewati dan sebentar lagi akan mereka tinggalkan.

"Lalu Bagaimana dengan kita din,rencana kita berdua untuk pergi ke ke Sabang di pulau sumatra lalu berlanjut sampai papua,setelah itu kita akan pergi ke malaysia singapura,india,cina,lalu ke negara negara timur tengah sambil umroh ke mekah",tanya Yuli penuh harap pada Andini. 

Andini hanya terdiam,matanya berawan sambil menatap teratai putih yang bermekaran di kolam didepan sekolah.

Tapi rencana hanya tinggal rencana;setelah perdebatan panjang,hingga tangisan,lalu berakhir saling diam. 
Yuli tetap saja harus merelakan Andini, untuk menikah dengan Harun, lelaki pilihan Ibunya.
Lelaki baik yang tak pernah menyangka akan mengalami perjalanan hidup yang luar biasa.

#Menikah,dibulan Juli lalu pergi.
Tibalah pada hari yang telah dinanti,di bulan juli,Andini menikah dengan dengan Harun.
Rumah telah dihias,janur telah dirangkai,Apel,pisang,nanas,anggur,telah disusun membentuk gapura hiasan yang indah.

Masih dingin pagi itu,Harun telah datang bersama keluarga besar,sementara itu dikamar pengantin yang indah;terlihat Andini dengan riasan yang sangat cantik di hari pernikahannya.

"Saya terima nikahnya Andini binti Asmawi dengan mas kawin kalung 3 gram,cincin sebelas gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."dengan suara bergetar Harun mengucapkan akad nikahnya dengan Andini.
"Sah...! ujar penghulu,saaah....! jawab saksi dan, para hadirin sekalian.
Seketika suasana tegang menjadi kegembiraan.
Doa pernikahan terucap dari pak Penghulu bersama wajah pucat Harun yang  berubah,merona, berseri, seiring sukacita bisa bersanding dengan gadis pujaan hatinya.
Dan diujung sana Dengan balutan blouse dipadu rok selutut,meski hati sedih,Yuli mencoba menguatkan hati,kakinya berjalan pelan menuju kursi pelaminan.

"Selamat ya din,semoga langgeng,dan berbahagia",bisik Yuli saat bersalaman memeluk untuk terakhir kalinya,seorang sahabat yang juga pasangan jiwanya.
"Terimakasih ya Yul,atas doa dan kedatangannya,tetap semangat ya,aku titip doa untuk semua petualangan petualanganmu",ucap Andini sambil membalas erat pelukan Yuli,seolah pertanda kalau,mereka tidak akan sedekat ini lagi di kemudian hari.

#Eropa dan Airmata
Andini semakin sibuk dengan Harun mengurusi bisnis dalam bidang perdagangan;jual beli material dan perkakas bangunan,saking sibuknya sampai berulang kali mengalami keguguran; mereka masih belum mempunyai keturunan di usia lima tahun perkawinannya.
Apalagi berkirim kabar dengan Yuli;yang hanya sempat rutin mereka lakukan diawal pernikahan mereka;setelah itu jarang sekali berkirim kabar;paling bertemu hanya ketika Hari Raya.

Selepas lulus kuliah Yuli mendapat beasiswa ke Paris;tentu saja ini kesempatan yang sangat dinanti,bisa sekolah juga jalan jalan ke luar negeri.

Hari itu,Yuli baru saja sampai di hotel setelah berkeliling menara Eifel,
"Ada pesan dari Indonesia, Miss yuli",kata mrs catherine pemilik rumah,tempat yuli tinggal.
"Oh ya,bisakah saya menelpon balik",tanya Yuli.
"Iya,silahkan",ujar mrs catherine ramah.
Setelah nada dering berganti suara seorang pria yang mengucap salam."Assalamualaikum";

"Waalaikumsalam;Hallo ini dengan Yuli,dengan siapa ini bicara";tanya Yuli pada suara diujung telepon.
"Yuli ini Harun...,sudah lama aku mencarimu;dari kerabatku di paris aku dapat melacak alamatmu sekarang."

"Iya Harun....kenapa;Ada keperluan apa kau mencariku;
Sesaat sepi di ujung telpon;

Terdengar lirih Harun terisak;

"Kenapa Harun...Andini...sehatkah....;
Hening lagi;
.............
.............
....
Dengan terbata,Harun bercerita,setelah lima tahun menanti buah hati,Akhirnya awal tahun kemarin,Andini diberi kesempatan untuk hamil.
"Satu bulan lalu,Andini melahirkan.....tapi Tuhan lebih sayang dia,....Andini telah berpulang, yul..."
Cerita mengalir perlahan;disela isak yang tertahan;dan pada akhirnya
pecah sudah;menjadi tangisan yang tergugu gugu...

Tanpa berpikir panjang,Hari itu Yuli segera cekout dan pergi ke bandara,untuk mencari penerbangan tercepat ke Indonesia.

#Lelaki Seorang diri
Sesampai di indonesia,Yuli segera pergi ke rumah Harun dan Andini
Disambut Ibu Andini,yang memberi tahu kalau Harun sedang pergi mengunjungi makam Andini,bersama buah hatinya.

Pagi itu bersama angin yang lembut menemani hangat mentari;seharusnya menjadi suasana yang indah;berbanding terbalik dengan pemandangan yang terlihat.

Seorang lelaki muda;mata sembab;berjongkok didepan makam yang masih baru;sementara disebelahnya;didalam kereta bayi, terlihat bayi mungil nan cantik, terlelap dalam wangi minyak telon dan balutan bedak bayi.

"Kenapa kau bawa bayimu kesini harun";tanya Yuli sesaat setelah Harun selesai berdoa.

"Dia sediki rewel,tetapi akan menjadi tenang saat aku berkunjung kemakam ibunya;sepertinya dia nyaman kalau dekat dengan makam ibunya".
Jawab Harun.

"Mirip Andini",bisik Yuli saat mengendong dan memciumi bayi mungil itu dari dalam kereta bayi.

Usai menaburkan bunga,mereka pun beriringan pulang.

Atas permintaan Ibu Andini,yuli tinggal sementara dirumah Harun,karena entah kenapa, Arsita putri kecil Andini dan Harun merasa nyaman dan tidak rewel saat ada yuli diantara mereka.
Meski ada baby sitter dan asisten rumah tangga,tetap saja bayi Arsita lebih nyaman bersama Yuli.

Dan itu juga membuat Yuli tidak habis fikir,karena seumur hidupnya belum pernah dia hidup bersama bayi,apalagi memegang bayi,berkhayalpun belum pernah dia lakukan untuk memiliki bayi.

"Mungkin ini jawaban,atas sikap Andini dulu sebulan sebelum melahirkan;Dia ingin sekali bertemu denganmu Yul;Aku bingung waktu itu, dengan keinginannya;karena susah sekali mencari keberadaanmu yang selalu traveling ke berbagai negara".
Cerita Harun,saat Yuli sedang menyuapi bayi Arsita.

Yuli memang masih melanjutkan cita cita untuk pergi keliling dunia;jika ada waktu luang di sela jeda waktu kuliah juga saat libur semester;dia pasti akan traveling ala backpaper ke luar negeri.


#Hanya menjadi Ibu Sambung

Dipandangi perlahan bayi Arsita,tak terasa sudah enam purnama,bayi mungil itu tumbuh besar dengan segala tingkah lucu dan imutnya.
Dan semakin hari rasa sayang itu tumbuh tak terbendung,seperti aliran air sungai dipagi hari yang jernih,menjadi cinta;cinta yang seperti angin;bisa kita rasa; tak bisa kita sentuh;mengalir seperti udara pagi yang memenuhi paru paru; menimbulkan kenyamanan dijiwa.
Bahkan rencana rencana besar yang telah di buat berbulan lalu, seperti terlupakan oleh kenyataan, bahwa bertemu bayi Arsita adalah sebuah pengalaman seru dan indah,mengalahkan semua petualangan petualangan yang telah dilaluinya di berbagai negara.

Pernah terlintas di fikiran Harun untuk mencoba meminang Yuli,agar kehidupan rumah tangga kembali bersemi setelah kepergian Andini.
Tapi dia sudah menduga kalau Yuli pasti menolaknya,karena menurut cerita Andini,Yuli memang berbeda.Dia hanya menganggap semua lelaki adalah seperti Ayahnya,yang pergi begitu saja meninggal dia,saat Yuli masih kecil.
Meski saat dewasa Yuli baru tahu,kenapa Ayahnya pergi;karena Ayahnya tidak mampu menahan kesedihan saat istrinya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

Ketika Arsita semakin besar,kira kira umur tiga tahunan,Harun pernah mencoba untuk mengutarakan semua perasaanya terhadap Yuli

"Yul..Arsita semakin besar,sepertinya kian hari dia semakin dekat denganmu,apakah kamu mau terikat perkawinan denganku";ucap Harun suatu ketika,saat Arsita makan sore, sambil disuapin oleh Yuli.

"Maaf....Harun,kamu harus tahu,aku mau merawat Arsita,karena aku tidak mau dia bernasib sama denganku,kekurangan kasih sayang,setelah ditinggal ibu meninggal,Ayahku malah pergi,karena tidak kuat menahan kesedihan."ucap Yuli.
"Aku ingin kamu kuat dan terus ada buat Arsita;dan jika kamu menikahiku,Aku khawatir tidak fokus lagi menemani Arsita.
Aku tidak mau itu terjadi;Aku sangat mencintai Arsita, Harun;biarkanlah aku menemaninya sampai dia dewasa.
Dan sejak saat itu tak ada lagi rencana rencana pernikahan.
Hidup terus berjalan,Arsita semakin besar dan menganggap Yuli adalah ibu yang paling mencintainya.
Begitupun Yuli,untuknya, Arsita adalah segala segalanya,semua akan dilakukan demi kebahagiannya,tak ada yang lebih indah dari apapun selain melihat Arsita bangun dipagi hari dalam keadaan sehat,apalagi semakin dia beranjak dewasa langkah,senyum dan tawa Arsita,semakin mengingatkan dia akan sosok Andini.

#Arsita,Andini dan Yuli.
Arsita tahu sejak dulu kalau Yuli bukan ibu kandungnya,bahkan sejak Balita,karena hampir sebulan sekali pasti diajak pergi kemakam Andini

"Mah ini makam siapa";suatu hari Arsita pernah bertanya pada Yuli,kala itu Arsita masih terlalu kecil untuk memahami tentang kematian.
"Ini makam teman mamah,teman yang mamah sangat sayang,seperti rasa sayang mamah ke kamu Arsita";hanya itu jawaban mamah saat itu;mamah adalah panggilan Arsita untuk Yuli.
Setelah ulang tahun Arsita yang kedelapan tahun,bersama Mama Arsita dan Ayah Harun mereka mengunjungi makam Andini,dan setelahnya Harun perlahan mulai menceritkan siapa sesungguhnya Teman yang ada di makam, yang sering kali mereka kunjungi.
Pada awalnya,tentu Arsita kecil kaget,dan sedih,tetapi perlahan dia mulai memahami,dan akhirnya menerima semua kenyataan yang telah terjadi.
Dan tentu saja,semuanya berjalan dengan baik karena Yuli yang begitu sabar dan tegar, saat mendampingi Arsita.
Yuli sangat melindungi Arsita,pernah suatu hari saat pulang sekolah,Arsita digoda dan hampir dilecehkan oleh preman kampung.
Arsita menangis saat tiba dirumah,
tahu apa yang dilakukan Yuli,dia berlari sambil membawa parang lalu menghampiri preman kampung yang sedang berjudi di kebon bambu,tanpa banyak bicara dia hajar semua preman itu,dan seandainya saja tidak ada Pak Lurah yang kebetulan lewat sehabis dari sawah,mungkin sudah ditebas semua itu preman preman kampung.

#Cinta seperti angin bisa dirasa namun tak bisa dipegang.

Begitulah rasa sayang Yuli terhadap Andini,meski akhirnya terpisah karena keadaan tapi rasa sayang itu terus bertumbuh meski pelan tapi abadi ,hingga  Tuhan memberikan jalan yang lebih indah dengan kehadiran Arsita dikehidupan Yuli.
Tak terasa, Arsita bersama kasih sayang Harun, dan Yuli tumbuh menjadi gadis cantik, yang juga pintar dalam bidang akademik.
Setelah wisuda Arsita menjadi Dokter,dan bertugas di rumah sakit daerah dikota tempat tinggal mereka.
Akan tetapi disinilah duka itu dimulai,Yuli sering batuk batuk kecil,lama kelamaan nafasnya semakin berat.
Setelah melalui pemeriksaan,diketahui ada tumor kecil di dalam paru parunya,tapi tumor itu tumbuh semakin cepat menjadi kanker ganas.
Pengobatan demi pengobatan tak membuat kesehatan Yuli membaik,hingga pada akhirnya Tuhan kembali memanggil bidadari penyelamat di keluarga Harun.

Dan itulah yang terjadi sore itu,diantara hujan deras,Harun harus melepas kembali perempuan kedua,yang rela melepas semua yang telah dicita citakan; dan memberikan seluruh waktu, cinta, dan kasih sayangnya untuk Arsita,untuk keluarga mereka.

"Aku belum pernah merasakan dicintai,sebelum bertemu Andini,tapi setelah kehilangannya justru aku mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari My Baby Arsita"....
Itu adalah sepenggal kalimat yang tertulis pada buku diari milik Yuli.
Dan itu memang benar sekali terasa oleh Harun,meski dia tidak dapat memiliki cinta seutuhnya dari Yuli tapi dia sangat merasakan sekali kasih sayang itu dari mendiang Yuli.
Sore itu saat Harun berjalan pulang dari pemakaman Andini,dan Yuli,meski jaraknya berjauhan tapi masih dalam satu komplek pemakaman,dia merasakan angin yang sejuk  berhembus menimbulkan ketenangan.
Dan benar kata orang tua dulu 
"Cinta itu seperti angin kowe hanya bisa merasakan tapi tidak bisa melihatnya,begitupun cinta Yuli terhadap Andini,Arsita dan keluarga besarnya,tak terlihat tapi sangat terasa. 









 

Minggu, 07 Februari 2021

vaksin saja tidak cukup.

Selamat ya,untuk semua masyarakat Indonesia yang telah divaksin per 13 januari 2021, dari yang pertama Bapak Presiden Jokowi,berlanjut ke jajaran pemimpin daerah,para nakes dan artis juga influencer tanah air.
Dan sempat rame juga ketika salah satu artis setelah mendapatkan vaksin lalu menghadiri pesta syukuran dan nampak terlihat berfoto tanpa menggunakan masker.
Meskipun setelah diselidiki mereka yang ikut pesta  telah menjalani tes swab dengan hasil tes negatif,tapi tetap aja dianggap salah oleh yang mulia netizen indonesia.
Saya perlu berterimakasih untuk mereka yang telah menciptakan vaksin covid 19,karena sampai saat ini pemberian vaksin adalah jalan terbaik dalam melawan pandemi ini.
Meskipun ada kabar burung, bahwa "mereka", demi uang dan kekuasaan rela melakukan hal yang paling hina sekalipun yaitu mereka yang "melahirkan virus mereka pula yang menciptakan vaksinnya."
Tapi sudahlah biarkan itu menjadi urusan "mereka" dengan Tuhannya.
Kita hanya patut bersyukur bahwa setidaknya kita salah satu negara yang di prioritaskan untuk mendapatkan vaksin.
Seperti yang telah kita ketahui bersama, ada beberapa negara yang belum kebagian vaksin,meskipun mereka telah memesannya diawal masa pandemi.
Mari juga kita hilangkan perasaan takut dan was was karena mendengar efek efek negatif dari vaksin,karena jelas, tidak ada produk yang sempurna,apalagi vaksin ini dibuat berkejaran dengan waktu,tentunya masih ada kekurangan disana sini.
Dan semoga vaksin akan sampai menghampiri kita, yang menurut kabar akan ada di bulan februari 2021.
Karena sejujurnya, kami sudah lelah dengan semua ketakutan akan pandemi ini.
Mau kerja proyek,harus berhenti karena ada lockdown,para pedagang yang harus dibatasi jam operasionalnya,pariwisata yang semakin sepi pengunjungnya.
Dan untuk mereka yang sudah di vaksin tetap jangan melupakan protokol 3 M ya,karena meski sudah di vaksin belum tentu ada jaminan terbebas dari covid 19.
Ada beberapa kasus yang sudah di vaksin malah terkena covid 19,meskipun ada banyak penyebab, penerapan protokol 3 M tetap menjadi benteng utama, dalam menjaga kita dari covid 19.
Adapun 3 M tersebut adalah,Memakai masker,Mencuci tangan dan Menjaga Jarak.
Meskipun ada juga yang mlesetin 3 M adalah Mangan,Mangan dan Mangan yang artinya Makan,makan dan makan.
Kemarin tanggal 28 februari,saya berkesempatan mengikuti webinar #vaksin saja tidak cukup,yang dipandu kang Asep herna dan Dokter yang cantik, dan diisi oleh para Dokter dan Profesor yang sangat berkompeten dibidangnya.
Ada satu pesan yang sangat penting dari webinar tersebut bahwa setelah vaksin,ternyata tidak cukup untuk melawan pandemi ini,setelah vaksin, kita harus tetap menjaga protokol kesehatan covid 19,kita tidak boleh abai terhadap 3 M,dan yang paling penting  dan utama adalah, kita juga bisa mengkonsumsi berbagai macam ramuan herbal yang tersedia di sekitaran rumah kita.
Dari mulai jahe,kunir,sampai kembang talam,sebagai salah satu cara agar daya imun kita lebih kuat dalam melawan virus covid 19.
Dan semua bahan itu banyak terdapat dilingkungan sekitar kita.
Seperti saat ini, sambil mememani menulis,kuseruput sedikit demi sedikit jamu herbal yang terdiri dari jahe, dan berbagai rempah lainnya, hangat terasa di tenggorokan,menyebar keseluruh tubuh.
Kita yang tinggal di negeri Indonesia,yang terletak didaerah tropis,harusnya berbangga diri, karena kaya akan tanaman, dan umbi umbian yang sangat berguna,baik untuk menjadikan rempah rempah bahan bumbu makanan,serta rempah bahan untuk jamu dan obat obatan,baik tradisional maupun pengobatan medis.
Jadi untuk semua teman teman pembaca,mulai sekarang,mari kita budayakan untuk menggunakan rempah rempah baik sebagai bumbu masak juga untuk salah satu sumber pengobatan alternatip,baik itu jamu atau minuman penghangat tubuh.
Karena Vaksin saja tidak cukup,setelah vaksin kita harus tetap menjaga 3 M,yaitu  Memakai masker,Mencuci tangan dan Menjaga Jarak,dan ditambah penggunaan rempah alami Indonesia baik sebagai bumbu makanan juga sebagai jamu dan minuman penghangat tubuh.

Mentari dan Surya

#Upacara Bendera
Hari itu, awal tahun pelajaran 1991, 
terlihat upacara bendera, untuk pertama kalinya.
Disekolah menengah pertama negeri, ditengah kota kecil, yang terletak di sepanjang pantura,terhimpit diantara kota Pekalongan dan kota Tegal. 
Kota itu bernama Pemalang, yang diapit gunung Slamet, dipuncak selatan, dan pantai Widuri diujung utaranya.
Diantara ratusan murid baru,nampak seorang anak lelaki, berdiri paling depan. 
Dia bernama "Putra suryana" atau biasa dipanggil Surya.
Sementara, didepan dibarisan pengibar bendera, tepatnya ditengah, ada seorang gadis mungil berkulit eksotis dengan hidung minimalis,yang bernama Mentari, mereka berdualah yang akan menjadi pusat, pada cerita kali ini.
#surat rahasia yang ketahuan
Riuh sekali siang itu,suasana dikelas 1 c, teriakan dan candaan silih bersautan,tetiba terdengar suara teriakan anak lelaki "mana suratnya,mana suratnya" teriak Deni sibadung jagoan kelas,
lalu, selembar kertas berwarna pink berhasil direbutnya, dari tangan Reni, teman sebangku Mentari,yang akan membawa titipan surat, untuk Surya. 
Dan dengan gaya seorang sastrawan hebat sekelas Sutardji Calzoum Bachri saat beraksi diatas panggung,Deni membacakan surat itu dengan mendayu dayu,membuat seisi kelas semakin riuh ramai seperti pasar malam saat malam minggu.
Sementara dipojok kelas,dibawah bangku,Surya bersembunyi,dia sungguh merasa teramat malu,hancur sudah harga dirinya sebagai seorang lelaki,terbuka sudah, semua rahasia yang selama ini dia pendam dalam, dan sembunyikan,
"ah.... teman teman brengsek",begitu pikirnya,tapi.... ya sudahlah,nasi sudah menjadi bubur,tidak mungkin kan, berubah jadi nasi lagi, apalagi nasi uduk, atau nasi rames.
Pasti hari hari kedepan, tidak akan pernah sama lagi,akan banyak tatapan penuh ledekan,belum lagi tulisan didinding pagar,di dinding WC dan banyak lagi, yang menorehkan kata kata "surya love mentari",dan sumpah itu susah sekali dihapusnya,kita hapus satu,tumbuh lagi seribu.
Kalian tahu kertas iklan yang suka ada di batang pohon,atau menempel di dinding tembok rumah orang tanpa ijin,yang cepat sekali berganti setiap harinya,yang kecepatannya melebihi berita hoax saat pemilu, yang cepat sekali menjadi viral,meski berita itu tidak benar.
Tapi..... yang Surya tidak pernah tahu,ada Eko,Budi,Santo,Yudi,Joko,belum lagi kakak kelas,Rudi,Hardi,Stevi, dan banyak lagi, tak tersebut namanya, 
yang akan patah hati berkeping keping,ketika mengetahui sebuah kenyataan,
bahwa Mentari  telah melabuhkan hatinya pada Surya, lelaki sederhana, yang bahkan uang sakunya, hanya sepersepuluh dari uang saku Mentari.

"Brompton dan wimcycle
Eh siapa sih Mentari...,kalian tahu Amanda Manopo pemeran andin dalam sinetron Ikatan Cinta,tapi saat dia belum begitu terkenal,saat kulitnya masih eksotis,ya kurang lebih 85 persenlah tingkat kemiripannya.
Mentari gadis mungil dengan hidung minimalis, tapi digandrungi banyak  teman lelaki sekolahnya,
mungkin karena Mentari dari keluarga yang lumayan tajir,dia anak salah satu pejabat teras dikabupaten Pemalang. 
Dia juga mayoret marching band yang sudah berkiprah sejak sekolah dasar lalu berlanjut sampai sekarang di Sekolah menengah pertama.
Kalian tahu kan Mayoret !!,pemimpin regu sebuah perkumpulan "musik baris berbaris",yang terdiri dari drum,pianika,terompet,cymbal, dan banyak lagi,biasanya memakai baju dan rok seksi sedikit diatas lutut, membawa tongkat panjang berbunyi ecrek... ecrek... jika digerakkan keatas dan kebawah,berjalan dengan pinggul melenggak lenggok bak peragawati, yang sedang berjalan diatas catwalk,
Dan pastinya, menjadi hiburan yang mewah, buat para pria setengah dewasa macam surya dan teman temannya.
Sementara Surya sendiri, lebih mirip seperti Arya Saloka pemeran Alde Baran. Tapi, dia versi low endnya,karena dia cuma anak buruh bangunan yang tinggal disebuah kontrakan kecil,bahkan dia pernah terbengong bengong,saat pertama kali memasuki kamar Mentari,karena, luas kamarnya, hampir sama dengan rumah kontrakan yang disewa bersama orang tua dan seorang adiknya.
Sejujurnya ada banyak sekali perbedaan antara Mentari dan Surya,jika diibaratkan sepeda, mereka seperti Bromtom dan Wim Cycle, memang sama sama sepeda lipat,
tapi,Mentari mewah dan mahal, sementara Surya cukup menawan tapi sederhana.

#Berawal dari tempat pensil
Cinta memang terkadang sulit dimengerti,
suatu hari Surya menemukan tempat pensil berwarna pink yang sangat dikenalnya, "ini milik Mentari"begitu fikirnya dalam hati.
Hari itu memang Mentari sakit dan meminta ijin pulang lebih awal,lalu dengan secepat abang abang gofood, Surya mencoba berlari, meski terengah, saat mengejar becak yang membawa Mentari.
Beruntungnya, akar besar pohon beringin, didepan sekolah, seperti telah
bekerja sama dengan semesta, karena dengan itu, laju becak menjadi sedikit terhambat,memudahkan Surya untuk berlari menghampiri, dan bisa mengembalikan tempat pensil milik Mentari,tepat sebelum becak tinggal landas meninggalkan gerbang sekolah.
Dan entah kenapa, tiada angin tiada badai, sejak saat itu, wajah Surya, begitu menghantui hari hari Mentari,
senyumnya, gigi gingsulnya, hidung mancungnya,selalu terbayang setiap saat, bahkan aroma badannya yang masih alami pun selalu tercium, membuat lupa makan,lupa minum,dan tidurpun menjadi rindu yang menggebu tidak menentu. 

#Puisi tengah buku
Dengan tekad yang kuat,menepikan rasa malu, dan getar getar tidak menentu, suatu hari, Mentari pura pura pinjam buku catatan milik Surya, dengan alasan, dia tidak sempat mencatat pelajaran hari tadi,
dan semalaman,bukannya menyalin isi buku, tapi dia, malah sibuk membuat puisi,hingga keesokan harinya, sebuah puisi sudah tercatat di tengah buku milik Surya.
"Surya.... ini bukunya aku kembalikan,jangan lupa baca tengah bukunya ya",kata mentari saat mengembalikan buku.
"Maksudnya..... gimana....",tanya surya,
tapi... pertanyaan itu tertelan bel sekolah, dan riuh anak anak yang ingin segera pulang.

#Puisi Mentari
Setelah menghabiskan nasi dengan sayur asam,sambal terasi dan ikan asin kesukaannya,Surya penasaran dengan ucapan Mentari,kemudian dia membuka tengah buku, terlihat sebuah puisi,lalu perlahan dibacanya,
"Kamu adalah sesuatu yang tidak aku mengerti.
Tiba tiba ada, mengisi ruang, menjadi rindu.
Memenuhi semua hari, juga malam malamku.
Adakah kamu, juga merasakan, 
getar yang sama.
Atau hanya ilusi saja."
Setelah membaca,
pikiran Surya sedikit bingung, apa maksudnya ya puisi ini,
dia baca lagi...,lagi..., dan lagi, puisi itu, berulang ulang sampai hafal diluar kepala,tapi belum juga paham apa maksudnya.
Andai saja pada tahun itu sudah ada WhatsApp,pasti dia akan kirim gambar,atau stiker bernada kebingungan
Karena, meski Surya tahu nomer telepon rumah Mentari,sayangnya, dia belum punya keberanian, untuk sekedar menelpon Mentari,bukan karena dia malu atau takut lidah menjadi kelu,
tapi lebih karena,dia belum tahu,bagaimana tata cara untuk menelpon,di telpon umum yang berwarna biru, yang kalau nelpon harus pake koin seratus perak sekali panggilan.
Padahal setiap hari Surya melewati bok biru telepon itu, karena didekat Sekolah Dasarnya pun ada,tapi dasar Surya anak lugu,tidak sekalipun dia pernah mencoba atau sekedar melihat tata cara bertelepon di Telepon Umum.

#Mentari surya, jadian
Akhirnya pagi itu datang, setelah semalaman, ribuan tanda tanya memenuhi benak Surya.
sesampai disekolah dan mengunci sepeda model balap ditempat parkir,
Surya berjalan, dengan tas selempang model Lupus, tokoh idolanya, sesampainya dikelas,celingak celinguk matanya beredar mengelilingi seisi kelas yang masih kosong,dan menemukan Mentari dengan senyum terindahnya.
"Hai mentari,selamat Pagi ,puisinya bagus,tapi itu buat siapa, dan maksudnya apa ya",dengan polosnya, Surya bertanya.
"He he... ya itu puisi buat kamu lah Surya,kan aku nulisnya dibuku Surya,bukan di buku mang Udin penjaga sekolah"jawab Mentari jenaka.
"maksudnya Surya mau nggak, jalan bareng sama aku",lanjut mentari
"Oh.... mau ngajak jalan jalan,ya hayu, mau jalan jalan kemana kita", kata surya sambil menggamit tangan mentari.
"Surya....,bukan jalan jalan begitu,tapi maksudnya Surya mau nggak jadi pacar aku",kata Mentari perlahan, sambil menggengam erat tangan Surya.
"Pacar....apa itu pacar,Surya nggak paham dan belum pernah pacaran",jawab surya.
Perlu kalian ketahui pada masa tahun 1991 di pemalang, pacaran adalah hal yang masih tabu untuk anak SMP apalagi yang baru lulus SD dan kampungan macam Surya ,referensi tentang pacaran, belum semeriah seperti sekarang,pengetahuan tentang pacar dan dunianya, masih sebatas bacaan sekelas novel tenlite Lupus,wiro sableng dan semacamnya.
Dan kebetulan sekali,Surya belum pernah ternoda, oleh semacam stensilan, sekelas any arow atau sereceh Fredy s.
Jadi tidak heran, jika Surya belum begitu paham, apa itu pacaran, dengan segala pernak perniknya,
Tak seperti Mentari, yang pergaulannya sudah cukup luas, dan lumayan mengerti, apa itu pacaran dan dunianya. 
Perlu kalian tahu di kota seimut Pemalang pada jaman itu sudah ada perbedaan kelas pergaulan,untuk sekelas Surya yang tinggal sedikit kepinggir kota, dengan Sekolah Dasar di komplek yang sedikit kumuh, pergaulannya ya sekedar main petak umpet,gobak sodor,ngejar layangan,juga nyari belut dan kodok disawah, 
Sedikit berbeda dengan Mentari yang tinggal ditengah kota, 
yang Sekolah Dasarnya saja sudah premium,yang diisi oleh anak anak pejabat,serta anak para pengusaha, jelas pergaulannya sudah cukup modern,mainnya di mall,nonton film dirumah atau nonton dibioskop setiap saat,
Meni pedi ke kesalon,
padahal jika diukur, jarak mereka berdua hanya sepuluh ribu jika naik Gojek,tapi karena belum adanya teknologi seperti sekarang, maka kesenjangan itu terjaga dengan baik, dan menjadi lestari, 
Hingga berpuluh tahun kemudian negara api menyerang dengan kilatan teknologi dan Android,dan kita disini, tak ada bedanya dengan mereka dibeda benua,sama sama bisa bergoyang tiktok dan nonton youtube.

#belajar tapi pacaran
"Pokoknya terima aja ya,Mentari jadi pacar Surya,nanti kita bisa belajar bareng,main bareng,pokoknya bareng,kemana mana berdua,"kata Mentari semakin menggenggam erat tangan Surya.
"Iya iya,oke deh,tapi janji ini harus jadi rahasia ya,Surya malu kalau ketahuan teman teman yang lain",jawab
Surya sambil memandangi tangannya yang terus menerus digenggam Mentari.
"Iya,siap",kata Mentari girang, sambil  memeluk erat Surya,dan itu membuat dada Surya bergetar tidak karuan.
Untung aja segera dilepaskan karena terdengar suara teman teman yang mulai memasuki kelas,jika tidak, bisa meledak dada Surya,karena sesak oleh getaran getaran aneh,yang baru pertama kali dia rasakan. 
Hari itu, Surya bersama temannya,pertama kali bermain kerumah Mentari,dalam rangka belajar kelompok,dan karena kebetulan Mentari satu kelompok dengan Surya.
Eh... aslinya tidak kebetulan, tapi karena Mentari sedikit ngotot pingin satu kelompok dengan Surya,meski secara aturan belajar kelompok,rumah Surya terlalu jauh dengan Mentari,tapi apa mau dikata, jika cinta sudah dihati, apapun akan dijalani, asalkan selalu dekat dengan sang pujaan hati.
Dan tentu saja Surya tak bisa menolak, untuk ikut kelompok belajar bersama mentari.
Dan ketika sampai dirumah Mentari,
dasar Surya pemuda kampungan, 
dia merasa gagap teknologi,ketika melihat Televisi dirumah Mentari yang besar,tapi tidak pake kaki dan punya alat untuk mengontrol dari jarak jauh,
Suryapun juga semakin tertegun, ketika televisi dinyalakan, gambarnya berwarna,suaranya terasa nikmat ditelinga,seperti melayang layang, ada dimana mana,
belum lagi dia usai dengan kekaguman dan kenorakkannya, ada lagi yang lebih menakjubkan, 
ketika Mentari memasukkan sejenis alat seperti tempat buku,berbentuk kotak,kedalam alat elektronik, yang juga kotak, ada lampunya, yang ada dibawah rak televisi.
"Surya nonton Tom and jery yuk,belajarnya biar tambah asyik"ajak Mentari pada Surya yang masih saja, tertegun sedikit norak dan kampungan.
"I...iya mentari",jawab Surya sedikit tergagap.
Dan itu adalah awal yang luar biasa buat Surya,tetiba punya pacar,tetiba melihat televisi berwarna yang besar sekali,dengan kaset dan vidio tapenya,dan sungguh dia Bahagia sekali,sampai makan pun dipercepat,karena ingin cepat tidur dan bangun lebih pagi,biar bisa bertemu Mentari lagi.

#Tidak selamanya selalu indah
Kehidupan Surya sejujurnya semakin indah dan berwarna ketika sudah mengenal Mentari,sampai ketika surat Mentari yang ketahuan dan dibacakan oleh Deni didepan kelas,semuanya menjadi berubah buat kehidupan Surya,rasanya seperti Ariel noah versus cut tary dan luna maya, yang vidionya heboh mempersatukan semua elemen api,air dan udara.
Atau Gisel dengan vidio sembilan
Belas detiknya, yang bisa mempersatukan cebong dan kampret berpadu erat tanpa sekat.
Rahasia kisah cinta itu, menjadi santapan publik, hampir seluruh penghuni sekolah dari Guru,Petugas BP,Penjaga Sekolah,bahkan Kepala Sekolah pun menjadi tahu,dan yang lebih heboh lagi sampai tukang empek empek didepan sekolah aja tahu, hubungan antara Mentari dan Surya,dan tulisan "Mentari love Surya" terpampang jelas digerobaknya.
Buat Mentari dia enjoy enjoy aja bahkan terlihat menikmati,tapi tidak buat Surya,dia mengalami shock pergaulan,
tiba tiba semua orang mengenal dan membicarakannya,
"Surya love Mentari"tertulis dimana mana,ditembok dan pagar sekolah,ditembok WC,bahkan sampai digerobak empek empek langganannya.
Tak ada lagi ketenangan saat Surya mengajak lari pagi Mentari, ke pantai Widuri,
sepertinya semua mata memandangnya penuh curiga,ada saja yang teriak cie..cie...pacaran nih ye....bahkan Nama "Surya love Mentari" tertulis di atas pagar pintu masuk pantai Widuri,padahal itu pagar lumayan tinggi,adalah lima meter kali ya, tingginya.
Dan yang lebih kurang ajar lagi,tulisan itu juga terpampang di makam cina yang menjulang tinggi keatas,konon dulu ketika orang itu meninggal dia ingin dimakamkan dalam keadaan berdiri,entah benar atau tidak, rumor itu. 

#Nasihat Mamah Surya
Suatu hari Surya sakit dan ijin tidak masuk sekolah,
dari hari jumat,sabtu, lalu pada minggu karena tidak ada kabar berita,Mentari bersama Reni, dan kedua kawan perempuan yang lain,berkunjung kerumah Surya,berbekal satu rantang berisi agar agar manis,
Mentari tanpa canggung, lalu mencium tangan mamah Surya ketika pertama kali bertemu,mamah Surya pun tersenyum lalu mempersilahkan masuk, ke empat tamu teman teman surya.
Setelah memanggil surya,mamahnya ke belakang untuk mempersiapkan sekedar air minum,dan makanan kecil.
"Surya,kemana aja,sakit kok nggak ada kabar",tanya mentari sedikit khawatir.
"Kemarin badanku panas,kayaknya masuk angin,habis kehujanan sewaktu pulang sekolah",jawab surya sedikit lemas.
"Ayo nak diminum dulu,maaf sekedar minuman dan makanan kecil",kata mamah Surya sembari membawa nampan berisi air teh manis dan sepiring kacang tanah sangrai.
Setelah satu jam Mentari dan teman teman,pamit pulang,lalu mamah Surya bertanya sedikit serius pada anaknya
"Temen kamu yang bawa agar agar itu siapa namanya,kelihatannya dia baik dan sopan".
"Namanya Mentari mah, temen satu kelas,kebetulan temen baik Surya di kelas 1 c",jawab surya singkat,takut mamahnya bertanya lebih lanjut.
"Oh Baguslah anak mamah punya teman baik perempuan,mamah nggak larang kamu temenan sama siapa saja,
tapi ingat,jika kamu sudah besar nanti dan siap menikah,
ingat perkuatlah dirimu sekuat mungkin,sehebat mungkin,dan sekaya mungkin,
agar kamu lebih dihargai oleh pasanganmu dan keluarganya."
"Dan ingat jika kita besi carilah besi lagi,jika kita kaleng carilah kaleng lagi,
artinya kita harus seimbang dalam mencari pasangan nak,harus sesuai dengan keadaan kita,kalau bisa jangan mencari pasangan yang terlalu tinggi diatas kita,dikhawatirkan kita akan jatuh dan hancur berkeping keping."lanjut mamah surya memberi petuah.
"Iya Mah,"jawab Surya tanpa membantah.
#pura pura putus
Satu tahun sudah, Surya dan Mentari duduk dikelas satu,sebentar lagi kenaikan kelas,dan sudah hampir satu tahun pula kisah cinta antara Mentari dan Surya terlewati.
Dan jujur saja, mereka kelihatan cukup bahagia,meski terkadang Surya masih malu,dan terkadang kerepotan sendiri, menghadapi rival rivalnya sesama pengagum Mentari, yang tidak kesampaian menjadi pacar Mentari, 
dan masih saja berharap untuk menjadi pacar Mentari.
Dikelas dua,kelas Mentari terpisah dengan kelas Surya.
Dan karena semakin banyaknya mata pelajaran,akhirnya suatu hari 
Surya bicara empat mata dengan Mentari.
"Mentari bagaimana kalau kita pura pura putus",ujar Surya
"Kenapa surya....kenapa harus pura pura putus Surya,apanya yang salah surya... atas hubungan kita",jawab Mentari
"Nggak ada yang salah Mentari,tapi dengan semakin banyaknya mata pelajaran,aku butuh konsentrasi lebih,sementara,karena kita beda kelas, semakin jelas dan ada saja yang julidin aku Mentari".
"Dan nggak mungkin juga kan kalau mereka yang julid, harus aku ajak berantem,bisa bonyok dong Surya,kalau berantem tiap hari".
"Jadi kalau kita pura pura putus,setidaknya hati mereka yang julid akan sedikit senang. 
Dan semoga, akan semakin berkurang mereka yang julidin aku Mentari",kata Surya mencoba menerangkan.
"Hmm...gimana ya..,tapi bagaimana kalau nanti banyak teman teman cowok yang lain pada naksir ke aku,apa kamu nggak marah",jawab Mentari sedikit menggoda surya.
"Ya tolak aja Mentari,
jawab aja kamu nggak mau pacaran,
kan kita cuma pura pura putus aja",balas Surya sambil nguwel nguwel kepala Mentari dengan gemas.
"Oke deh,kalau itu maumu,tapi bagaimana caranya Surya,"tanya Mentari sambil bergelayut mesra pada lengan surya.
"Gampang,bikin aja surat putus,lalu seperti biasa kirim lewat Reni tapi didepan Deni,pasti Deni Penasaran dan kejadian yang kemarin akan terulang lagi he.. he.. he",kata Surya tersenyum mengatur strategi.
"Oh iya..ya..Reni sama Deni kan sekelas denganku,oke deh,nanti malam aku tulis suratnya.....
Kekantin yuk,pura puranya  kita kekanrin untuk yang terakhir ya,sebelum kita putus",ajak Mentari sambil menarik tangan Surya.
Keesokan harinya,sesuai dengan perkiraan,terjadi kehebohan di kelas Mentari,ketika Deni seperti biasa dengan gaya sastrawan terkenal,kembali merebut dan membacakan surat dari Mentari,tapi kali ini isi suratnya,sangat melegakan para pengemar Mentari,karena yang mereka tahu,hubungan Mentari dan Surya telah putus,
padahal,setelah itu Mentari pergi ke WC sekolah untuk menemui Surya dan mereka tertawa bersama sambil menuliskan kata "Mentari benci Surya" didinding WC beserta gambar Love yang terbelah. 
Dan tentunya hubungan mereka berdua kian dekat dan kuat meski tersembunyi,tapi itu tidak masalah sekarang,karena Surya sudah bisa menelpon ditelpon umum,dengan koin seratus rupiah,dan terkadang dengan mengendarai sepeda, Surya bisa pergi ke warung telekomunikasi. 
Atau sering disingkat "Wartel" yang terletak di pusat kota,bersebelahan dengan kantor Telkomsel.
Surya sekarang bisa berlama lama menelpon Mentari,meski dengan itu dia harus lebih hemat untuk tidak jajan seharian karena uang sakunya hanya bertambah seratus rupiah.
Ah cinta memang butuh pengorbanan,dan Surya telah melakukannya dengan sungguh sungguh.

#Warung Bi Darmi dan Terminal Sirandu.
Sirandu adalah nama terminal bus di pemalang waktu itu,
Sebelum masuk keterminal bus, ada perempatan jalan yang cukup luas,ramai dan strategis,
juga karena tidak jauh dari terminal terdapat stadion olah raga dan Sekolah Menengah Atas favorit dikota Pemalang,
yang kelak Mentari akan melanjutkan sekolahnya disana.
karenanya jika jam pulang sekolah, pastilah sangat ramai disana,bercampur antara penumpang bus dan anak anak sekolah.
Tak terasa Mentari dan Surya sudah kelas tiga,
sebentar lagi mereka akan melanjutkan ke sekolah pilihan masing masing,dan ternyata sampai kelas tiga hubungan mereka tetap baik, 
bahkan lebih akrab,saling memahami satu dengan yang lain.
Meski ada saja hal hal yang mengganggu,tetapi mereka bisa melaluinya dengan baik dan bijaksana.
"Surya mau melanjutkan ke sekolah mana",tanya Mentari ditengah dentuman suara musik diantara pentas seni perpisahan kelas mereka.
"Aku pingin ke STM negeri  pekalongan",jawab Surya sedikit berteriak,untuk mengimbangi suara musik yang semakin berdegup kencang.
"Wah semakin jauh dong kita",jawab mentari
"Iya...,tapi tenang aja,kan aku bisa nelpon,atau ketemuan di Terminal Sirandu setiap pulang sekolah,
kamu mau tunggu aku kan",jawab Surya dengan sedikit memohon,
"Iya pasti aku tunggu,kalau keburu tapi ya, aku akan selalu tunggu Surya 
setiap Pulang sekolah",jawab Mentari.
Begitulah....cinta memang selalu menemukan jalannya,meski telah terpisah antar dua kota,dan belum ada alat komunikasi secanggih sekarang,
ada saja cara mereka untuk bertemu, 
atau sekedar berkomunikasi,
dari saling tunggu ketika pulang sekolah,lalu mampir sejenak ke warung bi Darmi yang terletak didepan terminal Sirandu,untuk sekedar melepas rindu sambil minum teh botol,
atau saling menitip surat, 
juga ke warung bi Darmi jika keduanya tidak sempat bertemu.
Dan sudah seharusnya mereka berdua berterimakasih kepada Bi Darmi yang sudah menjadi penghubung setia, dan menjadi tempat terindah untuk kisah cinta mereka. 

Demikian kisah ini,mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi,karena cerita ini asli lima persen kisah nyata dan sisanya adalah kisah suka suka penulis.
Terima kasih.