Pagi itu masih terasa dingin padahal sinar mentari sudah hangat menerobos sela sela gordin kamar melati ketika terdengar sapaan dari seseorang
Pagi kang Hemod sapa suster fatimah padaku dengan senyum manisnya yang seketika berubah jadi sedikit sendu ketika lirik matanya menatap ke arah smartphone yang berbunyi pelan sambil terucap lirih "innalillahiwainnalillahirojiun".
kenapa fat, tanya suster Renny, pak Ardi telah "pergi", ya Tuhan kata suster reny sambil melakukan doa rosario padahal beliau baru saja kemarin kesini untuk cuci darah.
Ternyata beliau sudah tak kuat,padahal kalau dilihat dari fisiknya,beliau semakin membaik,bahkan saat kesini untuk yang terakhir kali wajahnya ceria sekali tak nampak gurat kesakitan juga keletihan seperti saat pertama kali datang ke kamar ini.
Ya kabar kematian demi kematian hampir setiap kali datang menghampiri ke kamar melati,saking seringnya jadi tak aneh lagi,meski tetap saja suasana sedih kerap mewarnai wajah para suster dan perawat yang tak pernah bosan dan selalu sigap melayani para pasien yang datang silih berganti melakukan proses pembersihan darah atau hemodialisasi.
Entah sudah berapa ratus kali aku menjadi saksi mereka mereka yang datang dan pergi ada yang kembali lagi,atau malah tak kuat dan "pergi" dikamar ini.
Aku juga menjadi saksi betapa hebat dan kuatnya mental para perawat yang bekerja disini,terkadang meski mereka larut dalam kesedihan,mereka tetap bekerja tak peduli siang tak peduli malam bahkan tak ada tanggal merah semua tanggal hitam buat mereka,dan mereka tetap mampu saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Pernah suatu hari kulihat wajah seorang perawat yang bernama Anto terlihat sangat sedih,dan sering kali dia memyembunyikan air mata dari balik kaca matanya,tadinya aku tak tahu kenapa perawat Anto bisa sesedih ini,padahal biasanya dia adalah perawat yang selalu ceria.
Dan kesedihan itu pun terbaca oleh suster Ani,salah satu suster senior di ruang perawatan melati.
Setelah proses awal hemodoalisasi pada pasien telah dilakukan,suster ani menepuk pundak anto,kenapa to masih terbawa perasaan,sabar ya to,semua memang sudah waktunya,umur memang tiada yang tahu
Iya bu Ani,tapi Anira masih terlalu muda bu, masa depannya masih panjang,tapi... dia malah sudah "pergi"
masih aja terngiang ditelinga perawat Anto setiap kali dia menjerit lirih saat jarum suntik menusuk nadinya,meski akhirnya jadi terbiasa,tapi tetep aja dia selalu nanya,om Anto,apa Anira bisa sembuh,Anira bosen disuntik terus,Anira pingin sembuh,
iya Anira,sabar ya,anira pasti sembuh kalau rajin berobat,dan juga jangan lupa untuk selalu berdoa,biar cepet ilang penyakitnya
Biasanya anira mengangguk pelan sambil tangan posisi berdoa Ya Allah sembuhin anira ya,biar cepet sekolah,Amin jawab papa mama,dan semua perawat juga suster yang ada di ruangan melati.
Terkadang di sudut ruang terlihat papa mama anira terlihat terisak lirih saat anira mulai tertidur,dan biasanya perawat Anto akan mencoba menenangkan mereka meski dia tahu kecil kemungkinan anira bisa sembuh sediakala.
Aku juga menjadi saksi betapa terkadang cinta sejati itu akan benar benar abadi,meski diterjang kerasnya rintangan dia akan tetap bertahan
Seperti kisah pak arifin dan ibu arifin yang ,begitu setia menemani saat saat proses cuci darah suaminya,meski terlihat lelah tangan selalu tak lepas dari tangan suaminya,mengelus,memijit bagian bagian yang terasa sakit ditubuh suaminya.
Meski kerap kali dilanda kesedihan dia coba terus bertahan memberi semangat agar sang suami mau untuk melakukan cuci darah
Hingga akhirnya setelah hampir lima tahun,sang istri meninggal dan berapa hari kemudian pak Aripin "pergi" menyusul istrinya setelah dua hari dia cuci darah
Tapi terlihat waktu itu sudah tak ada lagi semangat yang menyelimutinya mungkin karena cinta sejatinya telah "pergi".
Oh ya semua teman suster dan perawat memanggilku kang Hemod dan aku sangat bahagia dengan pangilan itu apalagi saat para suster dan perawat sering menepuk nepuk tubuhku sambil berkata ayo kang hemod laksanakan tugasmu,jangan lelah ya,biar mereka para pasien bisa sejenak merasa sehat,dan tentunya atas seijin sang pencipta mereka dapat tambahan waktu hidup di dunia.
Seperti cerita kang Baron sang penguasa terminal tubuhnya penuh tato, wajah garang,suaranya berat berwibawa
Tapi akhirnya harus terbaring lemah karena ginjalnya sudah rusak permanen,mungkin karena akibat kehidupannya yang kurang menjaga kesehatan.
Maklum dunia terminal cenderung penuh hura hura siang malam kurang tidur,
minum ini minum itu,isep ini isep itu tak terkendali,yang penting happy, memaksa kinerja ginjalnya sampai batas maksimal,hingga akhirnya kolaps jatuh pingsan di tengah hari yang panas,
Tadinya nggak ada yang mau nolong,karena di fikir cuma lagi pusing aja sisa mabuk semalam,tapi akhirnya ada salah satu pedagang di terminal yang biasa dia palakin
Memberanikan diri untuk menghampiri,karena di fikir ini tak seperti biasa,biasanya kalau jatuh habis sisa mabuk,mulutnya masih ngoceh,tapi kali ini diam,bahkan terlihat pucat sekali wajahnya yang lusuh jarang tersentuh air itu,lalu diangkatlah ramai ramai dibawa kerumah sakit,
Dan akhirnya terdampar dikamar melati,karena hasil akhir periksa, ginjalnya sudah tak berfungsi normal jadi harus dilakukan proses cuci darah,dan tentunya harus bersahabat denganku.
Dan disinilah terkadang terlihat bahwa teman sejati adalah teman dikala kita tak berdaya,karena teman yang banyak disaat kita jaya terkadang hanya fatamorgana.
Seperti terlihat, hanya ada para pedagang terminal yang mau mengantar,yang juga berinisiatip mendaftarkan baron ke dinas kesehatan agar dapat pelayanan kesehatan gratis dari pemerintah.
Dan akhir cerita kang
Baron dia harus "pergi",setelah tiga puluh hari pulang dari rumah sakit tapi setidaknya ada cerita mengharukan karena dia sempat menjadi wali nikah anak perempuan satu satunya,yang sama sekali belum pernah dia tahu dan lihat,dan dirawat dengan baik oleh mantan istrinya dikampung.
karena dulu habis menikah, dia malah kabur ke kota,meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda,demi mengejar gemerlap kota.
Begitulah aku menjadi saksi dari banyak kejadian menyedihkan ini,sebenernya aku nggak tega dan ingin pergi saja tapi apa daya sudah tugasku disini membantu para suster,perawat dan yang paling penting para pasien cuci darah,jika tidak ada aku mereka takkan bisa tercuci darahnya.
Karena aku adalah Hemod si penunggu kamar melati,mesin cuci darah yang tak pernah lelah membantu para pasien agar bisa sembuh,meski hanya sementara,karena esok jika darahnya harus dibersihkan mereka akan datang lagi,datang lagi sampai mereka "pergi" tak pernah kembali.