Rabu, 01 Juli 2020

sunat

Lebaran sudah  berlalu,sudah seminggu lebih aku tak bisa mengasong,menjajakan makanan diantara bus yang datang dan pergi,terminal sepi karena wabah pandemi ,bersama pusing di kepala,serta panas dingin silih berganti menerpa tubuh tak henti henti.

"Dang...sadar...Dang....sunat..siapa yang sunat Dang...," tanya Udin, dalam cemas melihat temannya tertidur diantara igauan.

 "cuma ngimpi bang...aku mimpi anakku sedang disunat," jawabku sambil mencoba membuka mata yang terasa rapat sekali.

"Ting..ting...ting...," dering handphone berbunyi,memberi tanda pesan whatsapp.
"Ayah... pulang,abang...sunat ," Anakku mencoba menulis pesan,meski belum lancar menulis,dia mencoba memberi tahu keinginannya.
Keinginan yang sudah lama diimpikan sejak lebaran lalu,melihat teman sebaya yang ramai disunat saat lebaran,sesuai tradisi dikampungku,tapi apa daya,pandemi merubah semua keinginan  dan harapan tertunda entah sampai kapan.

 
Hari semakin gelap,suasana dingin yang mulai menusuk ibu jari kaki pelan merambat keseluruh tubuh, tapi ingatan rumah , anak,istri dan semua kenangan indah bersamanya membuat rasa kangen  yang semakin membuncah didada dan memaksa  seluruh meinginan untuk pulang.

Dengan tekad yang kuat ,meski harus bersusah payah,aku berusaha bangkit,perlahan,berjalan lalu berlari kejalan, mencoba mencegat bus ke arah kampung halaman.

Aneh sekali,sepertinya semua sopir bus tidak ada yang melihatku,padahal aku mengenal mereka dengan baik.Entah bagaimana caranya aku bisa duduk didalam bus yang tidak terlalu penuh karena ada aturan baru sesuai protokol pandemi.

Bayangan Abang memakai baju sunat semakin menari nari,membuatku terlelap sejenak, sampai suara ketukan koin dikaca bus membangunkanku,memberi tahu penumpang kalau telah sampai ke kota tujuan.

Sesampai didepan pintu rumah terdengar suara orang menangis,kulihat istriku menangis dalam pelukan Narti istri kang udin, sementara anak anakku nampak kebingungan sambil memegang ujung baju ibunya,aku coba memanggil mereka ,namun tak ada yang mendengar
sesaat ada tanya dalam benakku,kenapa mereka diam tak menghirau,malah semakin larut dalam kesedihan.

Sampai tak sengaja kubaca pesan whatsapp dari handphone milik narti,"Assalamualaikum narti, akang belum bisa pulang karena harus menjalani karantina selama empat belas hari beserta seluruh penghuni kontrakan,karena kemarin sore kang Dadang ditemukan meninggal dikamarnya, setelah beberapa hari sakit panas dan batuk,menurut petugas kesehatan ada kemungkinan dia sakit karena virus covid sembilan belas.tolong bilangin pak rt agar bisa menggalang dana  untuk membantu Budi anak kang Dadang agar bisa disunat,karena selama sakit dia kerap kali mengigau tentang keinginan untuk menyunat putranya."

(Di tulis sebagai kenangan untuk khitanan anak keduaku)
 
 

Jumat, 12 Juni 2020

pandemi menjadi sepi

Melihat ke area sekitar bedeng, daun daun kering berserakan diantara travo las,tabung oksigen juga material yang tertata rapih tapi terlihat merana seolah berteriak woi....pada kemana kalian manusia kenapa aku ditinggalkan begitu saja.
lalu perasaan itu datang,perasaan kehilangan, kehilangan sesuatu yang entah disebut apa, sesuatu yang dulu pernah ada meramaikan suasana,kini hilang menjadi sepi,entah pada kemana.

Sungguh badai pandemi ini menyisakan banyak perubahan, tempat kerja yang biasanya lalu lalang ribuan orang, entah darimana saja, kini berkurang hanya tinggal beberapa gelintir orang dan itu juga kadang hanya sebentar sekedar datang lalu pulang lagi karena bingung mau ngapain nggak ada yang dikerjakan.

Kemudian seorang sahabat yang seperti saudara mengabarkan kematian salah satu kerabatnya, yang kebetulan juga aku pernah mengenalnya dimasa lalu.
Ah waktu seperti berputar ke masa lalu,kembali teringat saat masa kecil yang terasa begitu indah meski sangat sederhana.

Dimasa wabah ini kabar kematian begitu sering terdengar kemarin dulu dua ratus meninggal,hari ini tiga ratus meninggal entah besok berapa lagi yang meninggal.

Meski sejatinya manusia meninggal itu hal yang wajar di setiap peradaban dunia tapi tetap saja jika jumlahnya cukup banyak terasa begitu menyedihkan. 

Kadang terfikir jika semua orang meninggal  hanya menyisakan kau dan aku,apa yang harus kita lakukan

Misalkan kita lagi butuh beras kemudian kepasar mencoba untuk beli beras,ternyata yang jual nggak ada, kena efek pandemi, akhirnya terpaksa jebol kios buat ambil berasnya,atau malah harus nanam sendiri,dimulai dari membajak sawah,lalu tebar benih padi,lalu tandur,kemudian setelah padi setinggi  dua setengah jengkal dari mata kaki  rumput dan gulma mulai menemani dan sudah saatnya ngerambet menyiangi tanaman padi dari gulma dan rumput dan setelah tiga bulan padi mulai menguning saatnya  panen,setelah itu padi yang sudah digebuk atau berbentuk bulir bulir gabah akan kita keringkan dibawah matahari sampai saatnya bisa kita proses menjadi beras,duh lama bener ya mau makan nasi.

Atau juga saat pingin beli sayuran ternyata nggak ada yang jualan karena nggak ada yang suply dari petani ke penjual apa mesti kita  ambil dari kebun,entah kebun siapa, kita metik sendiri sayuran sayuran yang kita butuhin,dan saat sayuran habis kita juga harus nanam sendiri.
Begitupun mau beli ayam,ikan,daging sapi dan semuanya harus nangkap dan sembelihmenguliti serta memisahkan daging dengan tulangnya,duh ribet dan lamanya nggak kebayang.

Atau tetiba pingin beli tempe sama tahu,karena nggak ada yang jual terpaksa bikin sendiri, prosesnya terlalu panjang,belum nyuci kedelainya lalu nginjek nginjeknya,lalu meresnya duh kebayang ribetnya. 
Apalagi kalau mau kecap duh tambah panjang prosesnya.
keburu busung lapar nih perut.

Tapi suka nggak ngerti juga sama mereka yang nggak percaya kalau wabah ini memang ada,mereka sudah nggak percaya,masih pula nyuruh orang lain biar nggak percaya,pake mau cium nafas segala orang udah kena covid duh ada ada aja.

Nah ada juga nih politisi perempuan dari partai onoh yang kerjaannya komplain melulu,sampe sampe juru bicara covid dr ahmad yurianto yang udah ditambah oleh dr Raisa juga masih dikomplain,dia kata kurang kompeten lah,kurang anu lah,pada itu dokter berdua emang beneran dokter,yang satu malah udah sangat senior di BNPT,eh masih aja dikomplain.

Dan yang bikin lucu tuh politisi yang komplain ternyata lulusan s3 pendidikan, yang tentu saja,mestinya tidak kompeten di dunia kesehatan,jadi seperti anak stm komplain ama anak akuntasi jadi nggak yambung gituh.

Diakhir tulisan saya mau mengajak teman teman semua untuk berdoa agar pandemi ini cepat berakhir,dan seandainya tuhan hanya menyisakan aku dan kamu setidaknya sisakanlah kami berpasangan agar kami bisa cepat bereproduksi kembali,untuk mengisi dunia yang sudah sepi.



berkah jomblowan dimasa pandemi

Seorang teman yang juga pemilik WO menulis bahwa bisnisnya berhenti total saat ada pandemi,dan tentunya penghasilan menjadi berkurang atau bahkan nol sama sekali.
Begitupun seorang teman lagi yang berprofesi sebagai pranoto acara atau mc, tapi yang versi jawanya beralih profesi sebagai pembuat sekaligus penjual minuman teh susu setelah berbulan dia vakum dari profesi utamanya.

Dan ada lagi di sebuah kota pesisir jawa tengah tepat di pantura, ada demo puluhan pemilik sound system yang berupaya agar kembali dibukanya kran ijin keramaian baik pernikahan atau acara acara lainnya karena semenjak pandemi ini berlangsung, otomatis semua peralatan sound systemnya ngganggur tidak ada yang menyewa dan tentunya  berimbas pada pendapatan mereka yang drastis berkurang.

Dan tentunya ribuan lapangan pekerjaan lain yang terimbas dampak dari pandemi ini dari sopir ankutan sampai pemilik perusahaan dengan omset milyaran.

Tapi salah satu temenku yang sudah lama ingin menikah kemarin akhirnya bisa melangsungkan pernikahannya, dengan riang dia bercerita kalau biaya pernikahannya berkurang hampir tujuh puluh lima persen karena tidak adanya tamu undangan meski juga menjadikan pernikahannya tidak seramai seperti pada umumnya,tidak ada amplop apalagi kado pernikahan.
 
 Kata temenku sebut saja "jombloman" dia akhirnya bisa menikah juga, setelah sekian lama hanya bisa merencanakan dan selalu kandas dan salah satu faktornya adalah karena kekurangan biaya.
 
Memang dimasa pandemi ini yang banyak menimbulkan kesedihan dan kepiluan ternyata ada yang sedikit beruntung salah satunya para jomblowan dan jomblowati karena bisa menikah dengan biaya minim dan tentunya bebas dari suara suara nyinyir masyarakat plus enam dua yang biasanya akan langsung berkomentar tanpa basa basi, tanpa kroscek sana sini jika ada kekurangan dikit aja didalam acara pernikahan.
Jadi buat teman teman yang sudah ada jodohnya ayo cepat menikahlah sebelum pandemi ini berakhir biar irit biaya juga bebas nyinyiran tetangga. 

Sabtu, 23 Mei 2020

Ma'e

"Allahu akbar Allahu akbar walillahilham"

Alhamdulillah,suara takbiran bergaung dimana mana pertanda besok lebaran,setelah satu bulan lamanya kita berpuasa.
Dan setiap malam lebaran ingatanku selalu tertuju pada seseorang.
Seseorang yang pernah menyayangiku sepenuh hati,seseorang yang sudah berpulang empat tahun lalu.

"Le kapan kamu pulang,besok udah mau lebaran, ma'e udah masak opor,sambel  goreng kentang campur ati ampela dan ini yang paling penting,ketupatnya juga udah mateng," itu kata ma'e setiap ditelpon sebelum lebaran,karena besoknya belum bisa pulang.
Biasanya bisa pulang setelah seminggu lebaran karena alasan pekerjaan.

Ma'e adalah sosok manusia yang ikhlas dan tulus menyayangi serta mengasuhku sejak aku bayi,karena aku sendiri tidak tahu siapa kedua orang tuaku.

"Suatu kali saat subuh ada suara tangis bayi di belakang rumah yang masih kebun dan pohon pohon besar di dalamnya,aku dan ma'e yang membawamu dari belakang rumah,tubuh mungilmu teronggok disebuah kardus dengan selimut kumal dan sedikit darah juga serombongan semut yang mulai menggigiti ujung jemarimu."
 
Begitu cerita lek parjo setelah berulang kali didesak untuk memberi tahu siapa kah sebenarnya diriku.
karena aku mendengar selentingan di luar kampung bahwa aku bukan anak ma'e.

Aku  masih SMP saat itu,sudah jadi pemuda tanggung, tapi mainku sudah jauh, sampe luar kampung hanya sekedar buat kenalan dan mencari perhatian para gadis kampung sebelah.

Hingga suatu hari  terdengar kabar selentingan itu.
Kabar bahwa ma'e bukan orang tua kandungku.

Ma'e nggak pernah mau menjawab pertanyaanku,dia cuma terdiam,tak banyak bicara tapi dari sorot matanya terlihat kalau dia menyimpan sesuatu,sesuatu  yang tidak mudah untuk dia ungkapkan.

Hingga suatu hari lek parjo bercerita semua rahasia masa kecilku setelah dia berhasil menemukanku yang sudah hampir sebulan kabur dari rumah dan membuat ma'e kalang kabut.

Dengan becaknya lek parjo berhasil membawaku pulang dan akhirnya cerita itu mengalir membuka tabir rahasia masa laluku.

Seiring berjalannya waktu,aku mulai menerima semua kenyataan bahwa ma'e bukan orang tua kandungku dan berhenti untuk bertanya siapa orang tua kandungku.

dan selama masa pencarian jati diriku, ma'e tetap menyayangiku seperti biasanya.

Bahkan saat aku kelas tiga STM  dia semakin sibuk untuk menerima semua pekerjaan yang bisa dia kerjakan,dari bantu rias penganten,
bantu masak di hajatan,sampe jualan soto didepan rumah dia kerjakan.

"Pardi sebentar lagi mau lulus SMA,lalu kuliah,dan biaya kuliah kan nggak sedikit,makanya aku sibuk ngumpulin duit buat sangu dia kuliah nanti," 
begitu kata ma'e
Selintas kucuri dengar, waktu mae ditengok tetangga sebelah, karena dua hari nggak jualan setelah mogok, badannya sakit semua.

Ma'e memang sejenis manusia yang rajin,dia mau melakukan pekerjaan apapun,untuk membahagiakanku,bahkan dulu katanya sebelum aku ditemukan, mae terbiasa ngamen dari panggung hajatan sampe terminal,tapi semua itu ditinggalkan setelah aku mengisi kehidupannya.

Ma'e juga sangat menyayangiku,pernah dulu saat masih usia tiga tahun,aku sakit panas lalu kejang,mae panik teriak teriak keliling kampung sambil gendong aku pake kain,untung ada tetangga yang baik hati yang bantuin bawa ma'e sama aku kerumah sakit,selama seminggu ma'e nungguin aku sampe sembuh.

Dan yang selalu kuingat saat masih bocah 
saat lebaran Ma'e nggak pernah lupa sekalipun untuk membelikanku baju,sepatu dan sarung baru.
sementara dia sendiri jarang beli buat dirinya sendiri,kecuali baju atau sarungnya sudah bolong,
dia juga sudah jarang pake bedak dan lipstik tebal lagi seperti kebiasaan waktu muda dulu.

Sewaktu kuliah diluar kota,meski belum pernah sekalipun dia menengok,tapi dia sering menelpon,atau sekedar kirim sms,dan tidak pernah telat tranfer uang,meski aku sudah punya beberapa kerja sampingan.

Suatu hari Mae berlinang mata saat lebaran dan aku pulang,untuk memberi tahu kalau aku ingin melamar seorang gadis,dia mengusap kepalaku lalu memelukku, "selamat ya le,mae pasti setuju yang penting dia baik dan mau menerima kamu apa adanya.

 Acara lamaran berjalan lancar,meski pada awal awal keluarga calon istri agak sedikit gimana saat melihat mae,tapi itu hanya sementara,setelah berjalannya waktu mereka semua dapat menerima kehadiran mae apa adanya. 

Lebaran tahun berikutnya aku menikah,meski sederhana tapi cukup meriah,karena semua orang dikampungku mengantar ke acara pernikahan,kulihat mae sangat bahagia.
Setelah pernikahan aku tinggal diluar pulau mengikuti pekerjaanku dan jarang pulang untuk menengok ma'e.
Tapi ma'e pernah sesekali datang ke kotaku tinggal,sekedar menengok istri dan buah hatiku,anakku sangat dekat dengan ma'e,begitupun istriku,mereka cukup akrab meski jarang berjumpa.

 Hingga suatu hari diawal puasa saat itu anaku sudah menginjak usia empat tahun,lek parjo memberi tahu lewat telepon ma'e dirawat di rumah sakit,

 tak lama aku segera vidio call ma'e,meski lemah tapi ma'e masih memaksakan untuk tersenyum "tenang le ma'e nggak papa,cuma kecapean ,kamu nggak usah kesini kalau lagi sibuk,"begitu kata ma'e.
 
 Meski akhirnya aku tahu kalau ma'e berbohong karena menurut lek parjo sakit ma'e sudah parah ,dan aku diharuskan pulang oleh lek parjo.
 
 Aku segera mengurus surat cuti lalu memesan tiket pesawat yang paling awal untuk sampai kekotaku.

Ketika sampe kerumah suasana sudah ramai,aku sudah punya firasat jelek,dan benar saja,lek parjo segera memelukku

"Yang ikhlas ya le ma'e sudah tenang,ma'e sudah pergi,ma'e sudah bahagia disana dan sudah tidak merasa sakit lagi,"

Aku sangat hancur saat itu,sosok yang paling menyanyangiku itu telah pergi untuk selamanya.

"Le sesuai pesan ma'e,dia ingin dimakamkan sesuai kodratnya sebagai lelaki,ayo barangkali kamu mau ikut memandikannya," begitu ajakan lek parjo sesaat sebelum memandikan ma'e.

"Ayo lek ,"jawabku sambil menyusul ketempat pemandian jenazah ma'e.

Setelah dimandikan,lalu dikafani sebagai seorang pria,kemudian dikebumikan di makam yang tak jauh dari kampungku.

Ya ma'e adalah ibuku sekaligus ayahku,dia adalah seorang ibu sejati yang bertubuh lelaki.

Terimakasih ma'e, diantara kekuranganmu,engkau telah berhasil untuk memenuhi pesan kedua orang tua angkatmu,
yang selalu cemas kalau saja tak akan ada yang bisa mendoakanmu kalau kau sudah tiada,karena tak adanya keturunan.

"Selamat lebaran ma'e,semoga engkau tenang dan bahagia disana,pardi akan selalu jadi anak mae dan tak lupa mendoakan ma'e  setiap habis sholat," 
begitu doaku saat lebaran dan bisa berkesempatan nyekar ke makam ma'e.


Minggu, 17 Mei 2020

Bapak....Aku....dan....Ibu....

"Saya terima nikahnya Yanti Putri Hapsari dengan mas kawin....." ucap bapak tegas sambil menggenggam erat tangan penghulu.

Disampingnya aku dibalut kebaya putih sederhana begitupun Bapak gagah memakai jas abu sewarna dengan celananya.
Tak ada janur,kursi tamu,apalagi undangan,hanya aku,Bapak,penghulu dan beberapa saksi.

Tak terasa sudah sampai hari ini, setelah melewati berpuluh purnama, dan aku mulai memasuki kelas sebelas.

Tetiba teringat peristiwa saat Bapak menikahiku,peristiwa yang mengubah seluruh duniaku.

Yah kalau diingat ingat seperti dalam mimpi saja,aku yang cuma seorang remaja,baru kelas sepuluh, sudah berani memutuskan sesuatu yang teramat sakral dalam perjalanan hidup, sendirian,tanpa berfikir lama dan meminta pendapat dari orang lain.

Setelah akad,kami langsung  pulang ke rumah kontrakan,
Sambil menutup pintu, Bapak lalu memelukku,bisiknya 
"neng sekarang neng sudah menjadi istri Bapak,neng bahagia tidak?"

Aku juga memeluk Bapak sambil menyenderkan kepala ke dadanya "iya pak aku bahagia,Bapak janji tidak akan meninggalkan neng kan," kataku pelan sambil kutatap seraut wajah rupawan meski telah berumur.

"Iya Bapak janji akan selalu menjaga neng,"
kata bapak sambil mencium kening, kemudian tangan yang mengusap kepala turun memegang dagu dan perlahan bibirnya menyentuh bibirku.

Duh... badanku terasa panas dingin,seperti melayang,kaki serasa tidak menapak ketanah,tubuhku sedikit limbung andai tidak di peluk oleh Bapak mungkin aku sudah terjatuh.  

Bapak juga menandai kalendar,waktu itu dia bertanya,kapan hari pertama haid.

"Buat apa pak," tanyaku dengan polosnya
"Buat hitungan KB neng,biar neng nggak langsung hamil,kan neng masih sekolah."

Oh begitu,aku memang masih sangat polos waktu itu belum pernah sekalipun berciuman,having sex,apalagi berfikir tentang kehamilan.

Bapak sangat sabar mengajariku.
Selama seminggu,hampir setiap hari beliau ke kontrakan, perlahan satu persatu beliau menyentuh setiap detail lekuk tubuhku tanpa terburu buru sampai aku merasa nyaman sekali bersamanya


Setiap hari setelah pulang sekolah,Bapak sudah ada dikontrakan,membawa makanan kesukaan,lalu makan siang bareng,membantu mengerjakan tugas sekolah sambil memelukku dari belakang menciumi belakang leherku,meniup telingaku,menbuatku geli geli gimana gitu.

"Neng nggak usah malu ya,kan Bapak sudah jadi suami neng" bisiknya sambil meraba dadaku perlahan memelintir ujung payudaraku membuat dadaku bergetar hebat tapi perlahan aku mulai menikmatinya.

Lalu mengajakku mandi bareng,suatu sore aku sedang dikamar mandi dan tidak dikunci,tiba tiba Bapak masuk hanya memakai handuk 

"neng hayu kita mandi," ajak Bapak,dengan sedikit malu aku mengiyakan dan itu untuk pertama kali aku bisa melihat tubuh Bapak polos tanpa baju,begitupun aku,tapi sampai hari itu kami belum melakukan hubungan suami istri.

Kami hanya saling membersihkan badan,Bapak menyabuni seluruh tubuhku dan gantian aku juga menyabuni seluruh tubuh Bapak,kami tertawa diantara canggung dan malu.

Sampai hari ketujuh entah kenapa sore itu aku menjadi sangat bergairah
Aku malah yang memulai duluan untuk menciumi bapak sampai akhirnya tak sadar,

Bayangan dua tubuh yang menyatu tergambar samar diantara redup lampu malam,bersama seiring gerimis hujan membasahi genteng kontrakan tapi tetap saja tak meredami  tetes peluh  berpadu diantara dua tubuh.

  
Tak sadar, aku memeluk bapak erat, menancapkan jari jariku kepundaknya, ketika ada sensasi geli, nyeri, linu, merambat dibawar pusarku saat Bapak seperti memasukkan sesuatu.  

Hingga diakhir permainan diantara hela nafas yang tak beraturan, terdengar pelan erangan Bapak,serta sesuatu yang hangat memenuhi rahimku.

Bapak memang sangat berpengalaman sampai bisa membuat gadis polos semacam aku perlahan bisa menikmati hubungan suami istri. 

Hari demi terasa semakin indah saja,meski terkadang Bapak datang cuma seminggu sekali tapi aku sudah sangat bahagia.

Bapak juga memberi nafkah uang yang cukup besar setiap bulannya,meskipun sebetulnya aku tidak terlalu membutuhkannya,karena uang pensiun dari almarhum ayah serta hasil panen dari sawah sudah sangat berlebih.

Dan aku juga bukan tipe perempuan yang boros dan banyak gaya,meski sekarang aku sudah mengenal skincare dan segala jenis kosmetika,tapi aku hanya menggunakan  dengan seperlunya saja.

Aku memakai lipstik jika ada Bapak berkunjung,itu juga karena Bapak yang membelikanku seperangkat kosmetik lengkap.

Suatu hari saat Bapak akan pulang dia berkata, "neng Ibu pingin bertemu,dia pingin kenal dengan asisten Bapak"

"Ibu...? Ibu siapa pak ?," tanyaku

"Ibu istri Bapak," jawab Bapak

"Tapi pak,saya malu,duh gimana ya,
Gimana kalau aku grogi, lalu salah jawab, lalu ketahuan, kan bisa berabe nanti,"jawabku dalam kebingungan.

"Begini..., setiap tahun kami selalu mengadakan syukuran, kebetulan anak anak kami tidak bisa datang karena kesibukan masing masing,"

"Karenanya ibu pingin mengundang orang orang terdekat dari lingkar perusahaan dan yayasan yang kami miliki. 
Dan yang Ibu tahu kan neng  sudah cukup lama jadi asisten Bapak,makanya ibu pingin ketemu sama neng."

"Kalau neng tidak datang malah nanti jadi pertanyaan dan Ibu bisa curiga," 
"tenang aja Ibu orangnya baik kok," kata Bapak berusaha menenangkanku.

"Oh oke kalau begitu ,neng akan menghadiri acara syukuran keluarga Bapak," jawabku meski ada rasa khawatir dan malu  bercampur membuncah dihati.

Dan tibalah pada hari, hari yang cukup mendebarkan, karena aku akan bertemu Ibu, yang notabene adalah maduku. 

"Duh gimana ini," degup jantungku berdetak lebih kencang,serasa mau pecah saja.

Tapi perlahan semua itu berubah menjadi tenang ketika dengan ramah tanpa dibuat buat
Kedua tangan Ibu  menyambutku dengan senyum terkembang.

Beliau memelukku erat,mencium pipi kanan pipi kiri,sambil berkata

"Oh ini asisten Bapak...,namanya siapa," "yanti bu ," jawabku
"cantiknya alami ya, terimakasih ya, sudah sabar menjadi asisten Bapak"

Perlahan ritme detak jantungku yang sedari tadi tak beraturan kembali mulai tenang, semuanya berjalan dengan baik,
Ibu mengenalkan ku dengan beberapa koleganya,bahkan aku duduk disamping Ibu sampai acara selesai.

Sebelum pulang Ibu kembali memelukku sambil berbisik "sering sering main kesini ya yanti biar Ibu ada temen buat bikin kue atau sekedar minum teh."

 "Iya Bu",jawabku sambil salim menjabat tangannya.
 
Dan dari hari ke hari ada saja alasan beliau agar aku bisa mengunjunginya,dari bantuin bikin kue,bantuin masak,atau sekedar bantuin merawat tanaman baru yang  beraneka ragam di taman rumahnya.

Sesungguhnya aku sangat bahagia,bisa bersama Ibu,karena kebaikan dan ketulusannya, mengingatkan ku pada almarhum ibu kandungku,
Tapi semuanya berubah menjadi kesedihan saat kembali kusadari Ibu itu maduku.

Ah..seandainya saja Ibu bukan maduku mungkin tak ada perasaan bersalah yang merambati perasaanku, setiap kali melihat senyum tulus Ibu,yang semakin hari semakin sayang terhadapku.

Setiap kali pulang dari rumah Ibu ada saja hadiah yang diberikan kepadaku,dari buku memasak,kue,baju, tanaman beraneka macam yang memenuhi halaman kontrakanku,hingga uang yang kerap kali kutolak,tapi pasti ibu akan memaksa dengan menyelipkan di tasku.

"Ya Allah.. aku harus bagaimana,disisi lain aku bahagia menjadi istri Bapak dan juga bisa mengenal Ibu,tapi disatu sisi aku merasa seperti penghianat yang menari nari diatas penderitaan seorang istri dan ibu yang sangat baik hati," suara hati ini terus bekecamuk didalam dada.

Hingga tibalah pada hari kelulusan, Alhamdulillah aku lulus,tadinya aku pingin langsung kuliah tetapi dengan beban pikiran yang terus memenuhi fikiranku,

Aku mencoba menenangkan diri dengan pulang kerumah tanpa memberi tahu Bapak,
smartphone aku sengaja matikan,aku benar benar ingin menenangkan hati dan fikiran.

Hari ketiga Bapak berhasil menemukanku,terlihat raut mukanya penuh kecemasan "kenapa neng,ada apa,Bapak sudah cari kemana mana," runtutan pertanyaan terlontar dari mulut Bapak.

"Neng bingung Pak,neng  merasa bersalah,neng merasa seperti penghianat kepada Ibu," 
"neng nggak tahu harus bagaimana," jawabku dalam isak derai air mata.

Bapak hanya terdiam lalu perlahan berkata "maafkan Bapak ya neng,Bapak tidak tahu jika kenyataan ini, bisa  membuat neng terjatuh dalam kesedihan dan kebingungan yang teramat dalam,maafkan Bapak ya neng,".

Aku masih terisak sambil nanar mataku menatap Bapak "tolong tinggalin neng dulu,beri waktu agar bisa menenangkan hati, bisa kan pak," pintaku pada Bapak.

"Baiklah neng,jika itu yang neng mau,tapi smartphone jangan dimatikan ya,"jawab Bapak.

Aku mengantarkan Bapak sampai ke pintu mobil dan perlahan seiring adzan magrib mobil itu pergi menghilang diujung jalan.

Bapak tetap menghubungiku lewat email,kadang lewat WA,sekedar menanyakan keadaanku dan bertanya kapan beliau bisa menjemputku.

Tapi aku tak banyak meresponnya,terkadang hanya kubalas dengan emote tertawa,dan tulisan bahwa aku masih ingin disini.

Hingga dihari ke tujuh dimasa liburan tiba tiba datang tamu yang tak pernah diduga,

Ibu datang mengunjungiku,aku kaget setengah mati,aku segera membalas pelukannya,lama kupeluk beliau sambil kutahan tahan agar air mata ini tidak tumpah.

Setelah kusajikan teh manis panas dan kue kue ala kadarnya dimeja,kami duduk berhadapan lalu beliau memulai percakapan.

"Yanti sudah beberapa hari ini Bapak terlihat murung,tadinya Ibu tidak tahu kenapa Bapak bisa murung,hingga akhirnya ibu bertanya,ternyata Bapak murung karena yanti pulang dan menjauhi Bapak."

"Bapak diam seribu basa,ketika Ibu bertanya kenapa yanti bisa pulang, apa sebelumnya ada masalah,atau ada apa,tapi bapak tetap diam."

Lalu,Ibu merasa ini kebenaran ini sudah saatnya untuk diungkapkan bahwa sesungguhnya....,

Ibu sudah tahu segalanya,ibu sudah tahu pernikahan yanti dengan Bapak bahkan semenjak hari pertama Bapak mengucap ijab kabul kepada yanti.

"Jadi begini  Ibu pingin cerita, semenjak muda Bapak adalah pria yang sangat energik baik dalam pekerjaan maupun urusan diranjang,
ketika sama sama masih muda ibu masih bisa mengimbangi semua keinginan Bapak,tapi seiring waktu ada yang berubah pada diri Ibu,pada kemampuan Ibu untuk melayani Bapak di ranjang."

"Dan ibu menyadari itu,karena semenjak Ibu berubah,sepertinya kebahagiaan Bapak juga seperti berkurang,meski Bapak terus menyangkal setiap kali Ibu tanya."

"Ibu bahkan pernah menyarankan agar Bapak menikah lagi,karena Ibu khawatir Bapak mencari pelampiasan dengan perempuan lain tapi dengan cara yang kurang baik.
Tapi Bapak selalu menolak,Bapak selalu menyakinkan Ibu bahwa dia tidak apa apa.

Walau Ibu tahu kebahagiaan Bapak sedikit  berkurang tapi Bapak melakukannya agar tidak melukai perasaan Ibu."

"Hingga suatu hari Ibu mendengar Bapak menikah lagi,sungguh Ibu bahagia dan ikhlas sekali.

Meski Bapak merahasiakannya dari Ibu,Ibu menerimanya dengan lapang dada dan  sangat memahami, jika Bapak merahasiakan pernikahannya agar kami tidak ada yang terluka."

"Yanti kamu harus tahu, semenjak pernikahan Bapak dengan yanti,terlihat kehidupan Bapak menjadi lebih bahagia."

"Dan tentu bahagianya Bapak juga bahagianya Ibu,
hingga seiring waktu Ibu menjadi penasaran seperti apa perempuan yang sudah merubah kemuraman Bapak menjadi kebahagiaan itu."

"Dan setelah Ibu bertemu denganmu,Ibu paham mengapa Bapak sangat bahagia denganmu,Bapak tidak salah pilih, kamu memang perempuan yang baik,yang meski sangat muda tapi terlihat sangat dewasa dan mau menerima bapak apa adanya."

"Kamu tidak banyak menuntut,baik dari segi materi atau waktu bertemu yang sedikit yang bisa diberikan oleh Bapak."

"Kamu memang perempuan luar biasa, perempuan pilihan,dan sangat pantas untuk menjadi istri Bapak dan juga teman berbagi buat Ibu."

"Terima kasih...,terima kasih," kata ibu sambil memelukku erat.

Aku hanya bisa terisak,tak kuasa lagi kutahan air mata ini.air mata bahagia.

*lima tahun kemudian*

"Linda,sini sayang makan dulu,sini jangan ganggu eyang mamah,nanti kena duri lho tanganmu" kataku sambil memanggil linda putriku yang masih berusia empat tahun yang  sibuk ngrecokin Ibu ditaman.

"Nggak pa pa ya lin,sini sayang,"kata Ibu sambil memeluk linda dan membawanya padaku.

Ya setelah peristiwa itu Bapak menikahiku secara resmi setahun kemudian Linda lahir melengkapi kebahagian kami,aku Bapak dan Ibu.

*******
Oh iya Linda memanggil Ibu dengan panggilan eyang mamah serta memanggil Bapak dengan panggilan Babah dan memanggilku dengan panggilan Ibu.

Aku dan Linda tinggal terpisah disebuah rumah dekat kontrakanku dulu yang baru aku ketahui sekarang ternyata kontrakan itu milik Bapak dan sekarang aku yang mengurusnya.
Tapi hampir setiap hari aku mengunjungi Ibu karena Linda sangat dekat dengan Ibu.













Senin, 11 Mei 2020

Bapak

Jangan kirim pesan apapun lewat wa ya,kirim pesan lewat email aja.

Kenapa pak,tanyaku..

Biar aman aja,ibu suka baca wa Bapak.
Bapak khawatir ibu tahu, bisa rame entar dunia percintaan eh persilatan he...he..
Tertawa Bapak  sambil memakai kaus dan celana dalamnya.

Oh begitu ya,jawabku sambil tersenyum manja,siap bapak,apapun perintah Bapak laksanakan.

kemudian kutarik selimut yang menjuntai ke lantai agar menutupi sebagian tubuhku yang tak terbungkus sehelai benangpun.

Sambil membetulkan celananya yang belum rapi kulihat Bapak mematut diri didepan cermin,setelah rapi,semprot sedikit parfum lalu beliau menghampiriku.

Bapak pulang dulu ya,jangan lupa belajar yang rajin,kerjain PR yang bener,sambil tangannya membelai lembut rambutku yang sedikit basah oleh keringat.

Sebelum melangkah pergi, 
salim dulu sambil kucium punggung tangan Bapak.

Bapak pulang dulu ya.

Iya pak,jangan lama lama,nanti aku kangen
Kalau kangen suka nggak konsen belajarnya.

oh ya kunci pintu dari luar,kataku pelan.

Bapak memang punya kunci pintu kontrakanku,sengaja biar beliau bisa datang kapan saja tanpa perlu mengetuk pintu.

Iya tenang aja,besok juga kesini lagi,sekarang kan giliran Ibu yang harus dilayani,biar semua aman terkendali.

Iya jawabku pelan dan mesra.

Mataku berat sekali,seiring pintu ditutup,lalu terdengar suara klik tanda pintu telah dikunci.

Aku mulai terlena kealam mimpi melepas semua lelah dan nikmat yang baru saja kuarungi.

Setelah mandi,sholat subuh aku segera bersiap untuk sekolah,ku cek sekali lagi semua peralatan sekolah.
Takut ada yang ketinggalan, bisa berabe karena jarak sekolah cukup jauh dari kontrakan.

Perlahan, suap demi suap bubur ayam mang kumis langganan mulai mengisi lambungku.

Buburnya enak dan murah,bubur mang kumis juga menjadi langganan seluruh penghuni rumah petak dikampung sukasari.

Neng, mau berangkat sekolah, tanya  Bi Eni sesaat aku mulai mengunci pintu kamar kontrakan.

Iya bi,jawabku, 
Hayu bareng ajakku, saat kulihat Bi Eni  juga mau berangkat kerja.

Kerja pagi Bi,sapaku sambil kujajari langkahnya menuju jalan raya, 
kebetulan pabrik tempatnya menjadi buruh jahit searah dengan sekolahanku.

Iya kebetulan lagi shif pagi,
eh si Uwa udah udah pulang neng?

Oh Uwa Adin,iya kemarin malam langsung pulang.

Nggak nginep neng,biasanya suka nginep.

Nggak bi,ada kerjaan pagi katanya,jadi langsung pulang.

Semua penghuni rumah petak memang sudah hafal dengan kami,aku sengaja mengenalkan Bapak sebagai Wa Adin,karena nggak mungkin kan, kalau dikenalkan sebagai suami siri,bisa ramai entar dunia pergibahan.. he.. he....

Mungkin hubungan kami berdua agak sedikit aneh dan diluar kewajaran.

Seorang pria gagah paruh baya yang seumuran dengan ayah sigadis 
Menikahi seorang gadis yang baru enam bulan sekolah SMK.
tapi inilah kenyatan yang terjadi,
Dan aku bahagia menjalaninya.

Meski aku tahu bakal mengecewakan beberapa pihak,terutama istri dan keluarga Bapak.

kami berkenalan tiga bulan yang lalu,saat itu Bapak sedang membutuhkan admin untuk yayasan yang dimilikinya.

Karena setiap bulan ada berapa puluh panti yang harus dibantu oleh yayasan yang dimilikinya.

Dan kebetulan aku sedang butuh kesibukkan untuk melupakan kesedihan setelah ibu meninggal.

Ya ibu meninggal kurang lebih setelah ayah meninggal,meninggalkan aku anak semata wayangnya.

Rasanya hancur sekali saat itu 
Sepertinya dunia menjadi gelap, sunyi ,sepi,sedih tanpa berkesudahan.

Tak ada lagi tempat untuk bercerita,bercanda,bersandar dan bermanja manja.

Hampir aja aku bunuh diri,karena peristiwa itu.

Dulu sewaktu ayah meninggal aku sangat terpuruk
karena Ayah sangat mencintaiku,semua keinginanku pasti Ayah akan berusaha memenuhinya
tak pernah sedikitpun dia memarahiku.
Beliau benar benar cinta pertamaku.

Tapi saat itu masih ada ibu,jadi kesedihan itu masih bisa terobati oleh kehadiran ibu.

Dan saat ibu meninggal itulah kesedihan yang sesungguhnya,karena hilang sudah semuanya,
Tak ada lagi tempat untuk berbagi dan bersandar.

Aku memang termasuk anak yang tidak banyak bergaul,temanku hanya bisa dihitung dengan jari.

Dan pertolongan Tuhan itu datang,ketika suatu siang aku melihat di papan pengumuman sekolah,ada lowongan pekerjaan sampingan menjadi admin.

Tadinya ada beberapa temanku yang juga mendaftar dan sama sama diterima,tapi mereka tidak bertahan lama karena merasa gajinya terlalu kecil.

Tapi aku tetap bertahan karena meski gajinya kecil,tapi pekerjaan ini begitu menyenangkan,dan perlahan aku mulai bangkit melupakan semua kesedihan.

Kesan pertama bapak itu sangat baik.
Karena dari hasil bisnisnya yang beragam,
beliau rutin memberi sumbangan kepada puluhan panti  asuhan dan panti jompo.

Lagi pula pekerjaan ini bisa dikerjakan
dimana saja dan kapan saja. 
Juga sekaligus bisa mengasah keahlianku sebagai seorang admin.

Hampir setiap minggu aku pasti diajak jalan sama bapak untuk mengecek semua panti yang disumbangnya.

Dari situlah semangat hidupku mulai tumbuh lagi.
Seperti pagi diakhir musim penghujan 
Ketika matahari bersinar begitu terang
Dan cahayanya yang menelusup kesetiap sudut ruangan.

Dan perlahan tapi pasti aku mulai menemukan sosok Ayah pada diri Bapak

Aku mulai ketagihan untuk bertemu dengannya.
Ada yang hilang saat beliau lama tidak berkunjung.
Ada getaran getaran lembut yang menghentak di dalam dada setiap kali melihatnya berbicara.
Perasaan yang entah disebut apa 
atau inikah yang disebut jatuh cinta,entahlah

Aku mulai merasakan kangen, wajahnya senyumnya,harum bau tubuhnya 
Selalu terbayang disetiap waktu 
Dan ini terus terjadi
setiap kali kami berjauhan.

Padahal aku tahu jika Bapak tidak mengunjungiku berarti beliau sedang bersama Ibu dan keluarganya.

Hingga suatu hari saking kangennya
Saat bapak datang kerumah
aku memeluknya erat sekali.

Begitupun beliau,beberapa kali beliau mencium dahiku,sambil berkata

Kenapa neng,kangen sama bapak ya
Bapak juga kangen,katanya sambil mengusap pipiku yang tiba tiba menjadi merah jambu.

Kemudian aku disuruh pindah dari rumah untuk kos didaerah sukasari yang cukup jauh dari sekolah dan rumah.

Kata Bapak biar tidak terlalu mencolok jika beliau sering datang mengunjungi.

Entahlah setiap kali kunjungan perasaan kangen dan sayang itu makin bertambah. Dan gayung pun bersambut ternyata perasaan Bapak pun sama terhadapku.

Hingga suatu hari bapak menawarkan pilihan

Neng kita nggak bisa begini terus,bapak takut keblabasan 
Bapak takut dosa, 
Bagaimana kalau kita menikah siri saja.

Menikah...siri...sesuatu yang belum pernah terbayangkan tapi aku langsung menye
tujuinya,aku tahu ini keputusan terbaik.

Maka hari itu setelah dua bulan bersama bapak,aku resmi menjadi istri sirinya
Aku bahagia sekali saat itu dan kebahagiaan itu makin bertambah sampai sekarang

Meskipun ada syarat yang harus selalu di ingatkan oleh beliau untuk selalu menjaga rahasia ini dari keluarga besarnya,terutama istri dan anak anaknya.

Aku cukup tahu diri aku cuma istri siri,dan yang lebih penting aku sangat bahagia jika bapak bersamaku.
Melayaninya, berbagi tawa canda bersama
Dan aku yakin kebahagian itu bisa terjadi jika bapak juga bahagia bersama keluarganya.

To be continue......






Rabu, 29 Januari 2020

Nafsu pot kosongku

Braaakkk
Suara pot bunga kosong beradu dengan kursi
Saat nafsuku tak tertahan
Sore mau hujan sementara tanah belum didapatkan
Tampa fikir waktu
Segera berlari
Untung masih gerimis
Jadi kaki masih bisa melangkah
Dan pot bisa bersemi
Bunga tumbuh mewangi

Depresi terselubung

Apa mesti kukemas perasaan ini
Kubungkus rapat 
Lalu kukirimkan lewat jnt atau jne
Jauh entah kemana
Tapi esoknya datang lagi entah dari mana
Perasaan itu yang membuatku kelu
Lalu kusadari aku tak bisa membuangnya
Jadi kupaksakan berjalan bersamanya
Meski tak suka,meski tak cinta

Cerita Pulang


Semestinya tak perlu aku jelaskan
Apa itu rindu tebal kepadamu 
ketika tak sengaja kau baca lirik itu
Karena itu hal biasa
Dan nanti kau akan merasakannya 
Tapi karena kau merengek paksa
Maka kuceritakan apa itu rindu 
Yang rasanya seperti asap rokok
Memenuhi paru paru namun tak bisa kau hembuskan
Malah berputar putar memenuhi
Isi kepalamu
Menyesakkan seluruh ruang kehidupanmu
Dan tak ada cara lain selain
Pulang...
Untuk menuntaskan semua yang terpendam

Kapan Kapan

Kapan kapan aku akan mengajakmu kesana
Ketempat dengan aroma luar biasa
Yang wanginya mengalahkan wangi ketek ibumu
Yang telah membuatku bertekuk lutut itu
Tapi kapan yah,tanyamu
Ya kapan kapan jawabku

Serupa Aku

Aku kerap bertanya pada nenek
Saat kulihat bintang dan rembulan
Apakah disana ada serupa aku
Yang juga sedang melihat kebumi
Dan juga bertanya serupa pada neneknya
Apakah ada  serupa aku disana 

Menantikan Rindu

Aku pernah menantikanmu
Berbulan bahkan bertahun menjadi rindu
Suatu waktu engkau disampingku
Dahaga itu terpuaskan
Tapi sekejap
Engkau pergi 
Kembali aku menantimu
Dalam doa berbalut rindu