Jumat, 12 Juni 2020

pandemi menjadi sepi

Melihat ke area sekitar bedeng, daun daun kering berserakan diantara travo las,tabung oksigen juga material yang tertata rapih tapi terlihat merana seolah berteriak woi....pada kemana kalian manusia kenapa aku ditinggalkan begitu saja.
lalu perasaan itu datang,perasaan kehilangan, kehilangan sesuatu yang entah disebut apa, sesuatu yang dulu pernah ada meramaikan suasana,kini hilang menjadi sepi,entah pada kemana.

Sungguh badai pandemi ini menyisakan banyak perubahan, tempat kerja yang biasanya lalu lalang ribuan orang, entah darimana saja, kini berkurang hanya tinggal beberapa gelintir orang dan itu juga kadang hanya sebentar sekedar datang lalu pulang lagi karena bingung mau ngapain nggak ada yang dikerjakan.

Kemudian seorang sahabat yang seperti saudara mengabarkan kematian salah satu kerabatnya, yang kebetulan juga aku pernah mengenalnya dimasa lalu.
Ah waktu seperti berputar ke masa lalu,kembali teringat saat masa kecil yang terasa begitu indah meski sangat sederhana.

Dimasa wabah ini kabar kematian begitu sering terdengar kemarin dulu dua ratus meninggal,hari ini tiga ratus meninggal entah besok berapa lagi yang meninggal.

Meski sejatinya manusia meninggal itu hal yang wajar di setiap peradaban dunia tapi tetap saja jika jumlahnya cukup banyak terasa begitu menyedihkan. 

Kadang terfikir jika semua orang meninggal  hanya menyisakan kau dan aku,apa yang harus kita lakukan

Misalkan kita lagi butuh beras kemudian kepasar mencoba untuk beli beras,ternyata yang jual nggak ada, kena efek pandemi, akhirnya terpaksa jebol kios buat ambil berasnya,atau malah harus nanam sendiri,dimulai dari membajak sawah,lalu tebar benih padi,lalu tandur,kemudian setelah padi setinggi  dua setengah jengkal dari mata kaki  rumput dan gulma mulai menemani dan sudah saatnya ngerambet menyiangi tanaman padi dari gulma dan rumput dan setelah tiga bulan padi mulai menguning saatnya  panen,setelah itu padi yang sudah digebuk atau berbentuk bulir bulir gabah akan kita keringkan dibawah matahari sampai saatnya bisa kita proses menjadi beras,duh lama bener ya mau makan nasi.

Atau juga saat pingin beli sayuran ternyata nggak ada yang jualan karena nggak ada yang suply dari petani ke penjual apa mesti kita  ambil dari kebun,entah kebun siapa, kita metik sendiri sayuran sayuran yang kita butuhin,dan saat sayuran habis kita juga harus nanam sendiri.
Begitupun mau beli ayam,ikan,daging sapi dan semuanya harus nangkap dan sembelihmenguliti serta memisahkan daging dengan tulangnya,duh ribet dan lamanya nggak kebayang.

Atau tetiba pingin beli tempe sama tahu,karena nggak ada yang jual terpaksa bikin sendiri, prosesnya terlalu panjang,belum nyuci kedelainya lalu nginjek nginjeknya,lalu meresnya duh kebayang ribetnya. 
Apalagi kalau mau kecap duh tambah panjang prosesnya.
keburu busung lapar nih perut.

Tapi suka nggak ngerti juga sama mereka yang nggak percaya kalau wabah ini memang ada,mereka sudah nggak percaya,masih pula nyuruh orang lain biar nggak percaya,pake mau cium nafas segala orang udah kena covid duh ada ada aja.

Nah ada juga nih politisi perempuan dari partai onoh yang kerjaannya komplain melulu,sampe sampe juru bicara covid dr ahmad yurianto yang udah ditambah oleh dr Raisa juga masih dikomplain,dia kata kurang kompeten lah,kurang anu lah,pada itu dokter berdua emang beneran dokter,yang satu malah udah sangat senior di BNPT,eh masih aja dikomplain.

Dan yang bikin lucu tuh politisi yang komplain ternyata lulusan s3 pendidikan, yang tentu saja,mestinya tidak kompeten di dunia kesehatan,jadi seperti anak stm komplain ama anak akuntasi jadi nggak yambung gituh.

Diakhir tulisan saya mau mengajak teman teman semua untuk berdoa agar pandemi ini cepat berakhir,dan seandainya tuhan hanya menyisakan aku dan kamu setidaknya sisakanlah kami berpasangan agar kami bisa cepat bereproduksi kembali,untuk mengisi dunia yang sudah sepi.



berkah jomblowan dimasa pandemi

Seorang teman yang juga pemilik WO menulis bahwa bisnisnya berhenti total saat ada pandemi,dan tentunya penghasilan menjadi berkurang atau bahkan nol sama sekali.
Begitupun seorang teman lagi yang berprofesi sebagai pranoto acara atau mc, tapi yang versi jawanya beralih profesi sebagai pembuat sekaligus penjual minuman teh susu setelah berbulan dia vakum dari profesi utamanya.

Dan ada lagi di sebuah kota pesisir jawa tengah tepat di pantura, ada demo puluhan pemilik sound system yang berupaya agar kembali dibukanya kran ijin keramaian baik pernikahan atau acara acara lainnya karena semenjak pandemi ini berlangsung, otomatis semua peralatan sound systemnya ngganggur tidak ada yang menyewa dan tentunya  berimbas pada pendapatan mereka yang drastis berkurang.

Dan tentunya ribuan lapangan pekerjaan lain yang terimbas dampak dari pandemi ini dari sopir ankutan sampai pemilik perusahaan dengan omset milyaran.

Tapi salah satu temenku yang sudah lama ingin menikah kemarin akhirnya bisa melangsungkan pernikahannya, dengan riang dia bercerita kalau biaya pernikahannya berkurang hampir tujuh puluh lima persen karena tidak adanya tamu undangan meski juga menjadikan pernikahannya tidak seramai seperti pada umumnya,tidak ada amplop apalagi kado pernikahan.
 
 Kata temenku sebut saja "jombloman" dia akhirnya bisa menikah juga, setelah sekian lama hanya bisa merencanakan dan selalu kandas dan salah satu faktornya adalah karena kekurangan biaya.
 
Memang dimasa pandemi ini yang banyak menimbulkan kesedihan dan kepiluan ternyata ada yang sedikit beruntung salah satunya para jomblowan dan jomblowati karena bisa menikah dengan biaya minim dan tentunya bebas dari suara suara nyinyir masyarakat plus enam dua yang biasanya akan langsung berkomentar tanpa basa basi, tanpa kroscek sana sini jika ada kekurangan dikit aja didalam acara pernikahan.
Jadi buat teman teman yang sudah ada jodohnya ayo cepat menikahlah sebelum pandemi ini berakhir biar irit biaya juga bebas nyinyiran tetangga.