Lebaran sudah berlalu,sudah seminggu lebih aku tak bisa mengasong,menjajakan makanan diantara bus yang datang dan pergi,terminal sepi karena wabah pandemi ,bersama pusing di kepala,serta panas dingin silih berganti menerpa tubuh tak henti henti.
"Dang...sadar...Dang....sunat..siapa yang sunat Dang...," tanya Udin, dalam cemas melihat temannya tertidur diantara igauan.
"cuma ngimpi bang...aku mimpi anakku sedang disunat," jawabku sambil mencoba membuka mata yang terasa rapat sekali.
"Ting..ting...ting...," dering handphone berbunyi,memberi tanda pesan whatsapp.
"Ayah... pulang,abang...sunat ," Anakku mencoba menulis pesan,meski belum lancar menulis,dia mencoba memberi tahu keinginannya.
Keinginan yang sudah lama diimpikan sejak lebaran lalu,melihat teman sebaya yang ramai disunat saat lebaran,sesuai tradisi dikampungku,tapi apa daya,pandemi merubah semua keinginan dan harapan tertunda entah sampai kapan.
Hari semakin gelap,suasana dingin yang mulai menusuk ibu jari kaki pelan merambat keseluruh tubuh, tapi ingatan rumah , anak,istri dan semua kenangan indah bersamanya membuat rasa kangen yang semakin membuncah didada dan memaksa seluruh meinginan untuk pulang.
Dengan tekad yang kuat ,meski harus bersusah payah,aku berusaha bangkit,perlahan,berjalan lalu berlari kejalan, mencoba mencegat bus ke arah kampung halaman.
Aneh sekali,sepertinya semua sopir bus tidak ada yang melihatku,padahal aku mengenal mereka dengan baik.Entah bagaimana caranya aku bisa duduk didalam bus yang tidak terlalu penuh karena ada aturan baru sesuai protokol pandemi.
Bayangan Abang memakai baju sunat semakin menari nari,membuatku terlelap sejenak, sampai suara ketukan koin dikaca bus membangunkanku,memberi tahu penumpang kalau telah sampai ke kota tujuan.
Sesampai didepan pintu rumah terdengar suara orang menangis,kulihat istriku menangis dalam pelukan Narti istri kang udin, sementara anak anakku nampak kebingungan sambil memegang ujung baju ibunya,aku coba memanggil mereka ,namun tak ada yang mendengar
sesaat ada tanya dalam benakku,kenapa mereka diam tak menghirau,malah semakin larut dalam kesedihan.
Sampai tak sengaja kubaca pesan whatsapp dari handphone milik narti,"Assalamualaikum narti, akang belum bisa pulang karena harus menjalani karantina selama empat belas hari beserta seluruh penghuni kontrakan,karena kemarin sore kang Dadang ditemukan meninggal dikamarnya, setelah beberapa hari sakit panas dan batuk,menurut petugas kesehatan ada kemungkinan dia sakit karena virus covid sembilan belas.tolong bilangin pak rt agar bisa menggalang dana untuk membantu Budi anak kang Dadang agar bisa disunat,karena selama sakit dia kerap kali mengigau tentang keinginan untuk menyunat putranya."
(Di tulis sebagai kenangan untuk khitanan anak keduaku)